Finansial

  • BTN Siap Serap Tambahan Kuota KPR Subsidi

    JAKARTA,KORIDOR–PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menyatakan kesiapannya dalam menyerap tambahan kuota kredit pemilikan rumah (KPR) melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Hal tersebut dikemukakan oleh Nixon LP Napitupulu, Direktur BTN. Ia menjelaskan jika perseroan sangat mengharapkan adanya tambahan kuota kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi baik melalui skema FLPP, subsidi selisih bunga (SSB) maupun skema KPR Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT).

    “Kami meyakini permintaan KPR subsidi tahun 2021 akan lebih tinggi dari 2020,” jelas Nixon, dalam siaran pers perseroan yang diterima Koridor.online, Kamis (19/11/2020).

    Menurut Nixon, sudah sewajarnya kuota FLPP ditambah karena pertumbuhan di sektor perumahan akan mendorong naiknya pertumbuhan industri pendukung dan penyerapan tenaga kerja kembali.

    “BTN siap menyerap tambahan kuota FLPP,” katanya.

    Rumah MBR

    Seperti diketahui, tingginya minat masyarakat untuk memiliki rumah FLPP membuat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR) melalui Badan Layanan Umum Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (BLU PPDPP) berencana menambah kuota penyaluran dana FLPP.

    Direktur Utama PPDPP Arief Sabaruddin mengatakan sebelumnya pemerintah menargetkan kuota penyaluran dana FLPP sepanjang tahun ini sebesar 102.500 unit hinian. Tercatat hingga Rabu (18/11) dana FLPP telah disalurkan sebanyak 102.665 unit senilai Rp10,52 triliun atau sebanyak 100,16% dari target yang ditetapkan pemerintah. Sedangkan jika dilihat dari nilai rupiah yang ditugaskan kepada PPDPP untuk menyalurkannya, maka masih terserap sebesar 95,66%.

    “Masih ada dana FLPP sebesar 4,34% dari Rp11 triliun yang diamanatkan pemerintah kepada PPDPP. Sehingga kami optimistis di sisa tahun anggaran 2020 ini akan menyalurkan hingga 110.000-an unit atau secara tepatnya menurut perhitungan mencapai 107.600 unit rumah,” kata Arief.

    Hingga kuartal III/2020, BTN berhasil menyalurkan kredit dan pembiayaan sebesar Rp254,91 triliun. Dari angka tersebut, KPR masih mendominasi, yakni senilai Rp196,51 triliun atau naik 1,39% year on year (yoy) dari Rp193,8 triliun pada kuartal III/2019. Dari total penyaluran KPR, porsi KPR subsidi mencapai Rp116,32 triliun atau lebih tinggi dibandingkan KPR non-subsidi yang sebesar Rp80,18 triliun.

     

  • Wow! Penyaluran KPR Subsidi FLPP Lampaui Target

    JAKARTA,KORIDOR—Penyaluran dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) TA 2020 melampui target yang ditetapkan oleh pemerintah kepada Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Tercatat per 18 November 2020, dana FLPP telah tersalurkan sebanyak 102.665 unit senilai Rp10,522 triliun atau 100,16% dari target yang ditetapkan sebesar 102.500 unit. Namun dari nilai Rupiah yang dianggarkan untuk dana FLPP sebesar Rp11 triliun, masih terdapat sisa anggaran yang akan segera disalurkan.

    “Masih ada dana FLPP sebesar 4, 34% dari Rp11 triliun yang diamanatkan pemerintah kepada PPDPP. Sehingga kami optimis di sisa tahun anggaran 2020 ini akan menyalurkan hingga 110 ribu-an unit atau secara tepatnya menurut perhitungan mencapai 107.600 unit rumah,” ujar Direktur Utama PPDPP, Arief Sabaruddin optimis.

    Berdasarkan perjanjian kerjasama antara PPDPP dengan 42 bank pelaksana, setiap bank memiliki kuota senilai Rupiah dan total unit yang harus mereka realisasikan dalam tahun perjanjian. Dari kuota yang ditetapkan semua  bank pelaksana sudah memenuhi kewajibannya. “Kami memberikan apresiasi kepada bank pelaksana yang sudah bekerja optimal dalam menyalurkan dana FLPP. Sisa anggaran yang masih ada akan segera direalisasikan lagi sehingga penyaluran tahun 2020, berada di atas target yang ditetapkan. Kami akan mendistribusikan kepada 11 bank pelaksana,” ujar Arief Sabaruddin menambahkan.

    Arief Sabaruddin, Direktur Utama PPDPP

    Arief Sabaruddin menegaskan bahwa perjanjian kerjasama dengan bank pelaksana untuk tahun 2021 akan segera dilaksanakan pada minggu ke-3 Desember sekaligus menjadi ajang bagi PPDPP untuk segera merilis produk terbarunya. “Dari hasil evaluasi kami melihat 75% bank pelaksana yang bekerjasama dengan PPDPP tahun 2020 berkinerja bagus namun kami juga melihat sejauh mana bank tersebut memberikan respon yang cepat atas aplikasi SiKasep,” ujarnya tegas.

    Berdasarkan dashboard management control PPDPP, saat ini sebanyak 255.635 calon debitur sudah mengakses aplikasi SiKasep, 107.616 calon debitur sudah dinyatakan lolos subsidi checking, 7.378 calon debitur dalam proses verifikasi, 142 calon debitur dalam proses pengajuan dana FLPP ke PPDPP dan 102.665 debitur sudah menikmati dana FLPP.

    “SiKasep akan semakin komprehensif ke depannya karena dalam aplikasi ini masyarakat akan menemukan rumah yang dicari, memilih bank pelaksana sesuai dengan kebutuhan, memilih lokasi rumah yang diinginkan dan merasa nyaman karena rumah yang ada di aplikasi SiKasep adalah rumah yang standarnya sudah sesuai dengan ketentuan pemerintah. Makanya kami mengharuskan bank bergandengan tangan dengan PPDPP untuk semakin membesarkan nama SiKasep,” ungkap Arief Sabruddin mengakhiri.

     

  • Upaya BTN Memacu Penyaluran KPR Sekaligus Mendorong Pemulihan Pasar Properti

    JAKARTA, KORIDOR– Memasuki penghujung tahun 2020 PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk menggandeng agen properti skala nasional seperti Era Indonesia, Harcourts, LJ Hooker, Loan Market, Remax, Century21, Projek, dan Raywhite. Kerjasama ini dilakukan guna mendorong pasar properti sekaligus memberikan kemudahan bagi masyarakat di seluruh tanah air agar segera dapat mewujudkan hunian impiannya.

    Kolaborasi bisnis tersebut ditandai dengan penandatanganan program bersama antara Bank BTN dengan sejumlah property agent yang dilakukan secara virtual melalui aplikasi zoom meeting, Rabu (11/11). Kerjasama ini meliputi penyediaan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah dan Apartemen (KPR/KPA).

    Executive Vice President Nonsubsidized Mortgage & Personal Lending Division (NSLD) Bank BTN Suryanti Agustinar menjelaskan, program ini melibatkan sejumlah perusahaan besar yang sudah teruji kiprahnya di dunia property agent.

    “Dengan kerjasama ini kami berharap dapat membatu masyarakat mencari pendanaan untuk membeli properti melalui jasa property agentserta jaringan kantor member-nya,” ujar Suryanti Agustinar usai PKS via zoom meeting.

    Seperti diketahui, Pademi Covid-19 membuat daya beli masyarakat menurun seiring dengan kondisi perekonomiandi seluruh dunia termasuk Indonesia yang kian merosot. Industri properti merupakan salah satu sektor ekonomi yang paling terdampak pandemi. Karenanya, menurut Yanti –sapaan akrabnya, PKS Bank BTN dengan property agent ditargetkan dapat menyasar seluruh masyarakat Indonesia yang membutuhkan hunian.

    Kerjasama antara Bank BTN dengan property agent tersebut dikukuhkan melalui pelucuran program pemasaran bersama bertajuk “KANGEN BTN (KPR AGENT PROPERTY)”.

    “Dalam kerjasama ini masyarakat dapat menikmati berbagai keuntungan, antara lain down payment (DP/uang muka) mulai 10% serta bebas administrasi dan provisi khusus untuk wilayah kota besar seperti JABODETABEK, Bandung dan Surabaya. Sementara para property agent akan mendapatkan marketing fee sebesar 1% untuk all plafond dan reward voucher belanja jutaan rupiah s.d akhir tahun 2020 dan dapat dilakukan pengajuan secara online.” paparnya.

    Di masa Pandemi Covid-19 ini, Bank BTN terus melakukan inovasi dalam pemberian kredit KPR, KPA itu juga untuk mensukseskan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dan terkhusus mendukung sector property  di tanah air.

    Dalam kesempatan ini haadir juga, Wakil Ketua Umum Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) Nurul Yaqin mengungkapkan, terwujudnya kerjasama dengan Bank BTN melalui payung organisasi AREBI merupakan momen yang ditunggu-tunggu. Sebab, hingga kini Bank BTN merupakan satu-satunya institusi keuangan yang paling konsisten membantu pembiayaan industri properti.

    “Selain sebagai market leader di KPR/KPA, Bank BTN juga menjadi barometer pasar properti di Indonesia. Jadi, kalau kita ingin tahu seperti apa kondisi pasar properti dalam negeri, maka cukup datang ke BTN. Karena itu, kami secara institusi mendukung sepenuhnya rencana Bank BTN untuk menjadi the biggest mortgage market in Asia Tenggara,” ungkapnya.

    Menurut Nurul, saat ini pasar properti sudah mulai bergairah dan menunjukan tanda-tanda kebangkitan. Kerjasama dengan Bank BTN ini merupakan salahsatu peluang untuk memacu penjualan meski pasar makin terbatas. “Kami tetap optimis selalu ada peluang ditengah kesulitan, dan kerjasama dengan Bank BTN ini adalah peluang untuk meningkatkan garirah pasar property di Indonesia,” pungkasnya. (*)

  • Realisasi Anggaran Belanja Infrastruktur Kementerian PUPR Capai 68 %

    JAKARTA, KORIDOR– Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus melanjutkan program kerja melalui belanja infrastruktur PUPR, seperti pembangunan dan pemeliharaan bendungan, irigasi, jalan, jembatan, sanitasi, sistem air minum, penataan kawasan, infrastruktur di kawasan strategis pariwisata, rumah MBR dalam rangka meningkatkan daya saing sekaligus menjadi stimulus bagi sektor riil untuk tetap bertahan dan tumbuh pada masa Pandemi COVID-19 ini. Tercatat hingga 1 November 2020, dari total pagu anggaran tahun 2020 sebesar Rp 87,76 triliun telah terealisasi penyerapan anggaran program sebesar Rp. 59,47 triliun atau 68%.

    “Pada masa Pandemi COVID-19 ini, pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan akibat dari turunnya investasi, demikian juga ekspor impor, sehingga untuk menunjang pertumbuhan ekonomi, Pemerintah mengandalkan belanja APBN untuk pembangunan infrastruktur,” kata Menteri Basuki beberapa waktu lalu .

    Total anggaran tahun 2020 sebesar Rp. 87,76 triliun terdiri dari program reguler sebesar Rp. 75,44 triliun dan program pembangunan infrastruktur dengan skema Padat Karya Tunai (PKT) melalui 16 program dengan anggaran sebesar Rp. 12,32 triliun. Program tersebut diantaranya untuk pembangunan irigasi kecil, sanitasi, jalan produksi, dan rumah swadaya.

    Khusus untuk program PKT dengan target penerima manfaat sebesar 638.990 orang. Hingga awal November 2020, realisasi PKT telah mencapai Rp. 10,80 triliun atau sebesar 87,7 % dengan jumlah tenaga kerja yang telah terserap sebanyak 630.990 orang atau sekitar 98,7 %.

    Dari total sebanyak 16 program PKT, secara keseluruhan 11 program telah mendekati tuntas, meliputi: Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI), Operasi dan Pemeliharaan (OP) Air Tanah & Air Baku, OP Irigasi dan Rawa, Tugas Pembantuan OP Irigasi dan Rawa, Revitalisasi Drainase Jalan, Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas), ), Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R), Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW), penataan Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU), serta Pembangunan Baru dan Peningkatan Kualitas Rumah Swadaya.

    Disamping itu juga dialokasikan anggaran sebesar Rp.1,36 triliun untuk mendukung program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) berupa perluasan Program Padat Karya berupa revitalisasi saluran drainase jalan nasional sepanjang 5.000 km dengan anggaran Rp 1 triliun dan pembelian produk rakyat berupa material tambalan cepat mantap (CPHMA) sebanyak 100.000 Ton sebesar Rp 200 milar, modular RISHA (Rumah Instan Sederhana Sehat) sebanyak 5.495 unit senilai Rp. 125,6 miliar, Modular RUSPIN (Rumah Unggul Sistem Panel Instan) 272 unit senilai Rp 5 miliar, kemudian pembelian produk rakyat seperti Big Gun Sprinkler, Tandon Air dan Biodegester.

    Selain itu untuk mendukung peningkatan konektivitas, dialokasikan anggaran untuk pembelian karet petani sebanyak 11.338 ton senilai Rp 120 miliar dan pembelian Resin Ester 790,42 ton sebesar Rp 25 miliar. Hingga saat ini total realisasi penyerapan untuk pembelian produk rakyat hingga saat ini adalah 57,7% senilai Rp. 281 miliar dari total pagu Rp. 487,8 miliar. (*)

  • Kuartal III/2020, Laba BTN Melesat 39,72%

    JAKARTA—IH: Mengakhiri kuartal III/2020, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. mencatatkan prestasi sangat positif dengan perolehan laba bersih yang melesat di level 39,72% secara tahunan (year-on-year/yoy). Perseroan tercatat mencetak laba senilai Rp1,12 triliun per kuartal III/2020, naik dari Rp801 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

    Direktur Utama Bank BTN Pahala Nugraha Mansury mengatakan berbagai langkah penguatan yang telah dilakukan oleh perseroan mulai menunjukkan hasil positif. Bank BTN, lanjutnya, telah melakukan penguatan di sisi kualitas aset, likuiditas, permodalan, bisnis, hingga langkah efisiensi. “Di tengah tekanan akibat pandemi, kenaikan laba bersih Bank BTN menjadi bukti strategi yang kami lakukan berada pada jalur yang tepat. Hingga akhir tahun nanti, kami optimistis target laba bersih akan tercapai,” jelas Pahala pada acara Paparan Kinerja Bank BTN Kuartal III/2020 di Jakarta, Kamis (22/10).

    Laporan keuangan emiten bersandi saham BBTN tersebut menunjukkan laba bersih perseroan ditopang oleh penurunan beban bunga dan efisiensi. Beban bunga BTN tercatat turun 3,49% yoy menjadi Rp11,95 triliun per kuartal III/2020.

    Penurunan beban bunga tersebut ditopang oleh aksi korporasi dalam pemangkasan dana mahal. Pemangkasan tersebut mampu menekan Cost of Fund (CoF) hingga 70 basis poin (bps) sejak akhir 2019. Strategi efisiensi yang dilakukan Bank BTN juga sukses menekan angka Cost to Income Ratio (CIR). Pada September 2020, CIR BTN turun 141 bps dari 57,13% pada September 2019 menjadi 55,72%.

    Di samping sukses mencatatkan penurunan beban bunga dan meningkatkan efisiensi, perseroan tetap mencatatkan kenaikan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK). Bank BTN mencatatkan DPK naik 18,66% yoy dari Rp230,35 triliun per kuartal III/2019 menjadi Rp273,33 di periode yang sama tahun ini.

    Kenaikan DPK tersebut juga ikut menekan Loan to Deposit Ratio (LDR) ke level 93,26% di kuartal III/2020. Perolehan positif DPK juga memperkuat Liquidity Coverage Ratio (LCR) perseroan di level 178,40% per kuartal III/2020 atau naik dari LCR di kuartal III/2019 sebesar 131,12%.

    Sementara itu, Bank BTN juga mencatat permodalan perseroan meningkat. Capital Adequacy Ratio (CAR) perseroan tercatat sebesar 18,95% pada September 2020, naik dari 16,88% di bulan yang sama tahun lalu. Peningkatan ini juga turut membuka ruang gerak yang lebih luas bagi Bank BTN untuk melakukan fungsi intermediasinya.

    Di samping itu, BBTN pada kuartal III/2020 telah menyalurkan kredit dan pembiayaan senilai Rp254,91 triliun. Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi terpantau menjadi penopang utama penyaluran kredit BBTN. Per kuartal III/2020, BBTN telah memberikan KPR Subsidi senilai Rp116,32 triliun atau naik 4,19% yoy dari Rp111,64 triliun. Bank BTN juga telah menyalurkan KPR Non-subsidi senilai Rp80,18 triliun per kuartal III/2020. Dengan nilai tersebut, perseroan secara total telah menyalurkan KPR sebesar Rp196,51 triliun atau naik 1,39% yoy dari Rp193,8 triliun di kuartal III/2019.

    Dengan demikian, Bank BTN mencatat telah menyalurkan kredit dan pembiayaan di segmen perumahan sebesar Rp231,34 triliun per kuartal III/2020. Pada segmen kredit non-perumahan, Bank BTN mencatatkan pemberian kredit senilai Rp23,57 triliun per kuartal III/2020. Dengan kinerja tersebut, BBTN mencatatkan posisi aset sebesar Rp356,97 triliun atau naik 12,89% yoy dari Rp316,21 triliun pada kuartal III/2019.

    Pahala juga menjelaskan pada kuartal III/2020, Bank BTN tetap mampu menjaga kualitas aset. Meski tekanan akibat pandemi belum mereda, perseroan berhasil menurunkan rasio kredit bermasalah (Non-performing Loan/NPL) net di level 2,26% dari posisi pada bulan yang sama tahun sebelumnya yang berada pada level 2,33%.

    Sejalan dengan komitmen perseroan meningkatkan kualitas aset, Bank BTN juga terus memupuk coverage ratio. Per September 2020, BTN mencatatkan coverage ratio di level 111,36% atau melesat dari 52,67% di bulan yang sama tahun lalu.

    Kinerja Unit Usaha Syariah Positif

    Sementara itu, Unit Usaha Syariah (UUS) Bank BTN juga mencatatkan kinerja yang positif. Per kuartal III/2020, aset UUS Bank BTN naik 11,02% yoy dari Rp29,46 triliun pada kuartal II/2019 menjadi Rp32,71 triliun. Kenaikan tersebut ditopang peningkatan penyaluran pembiayaan sebesar 4,51% yoy dari Rp23,31 triliun pada September 2019 menjadi Rp24,36 triliun di September 2020.

    UUS Bank BTN juga mencatatkan perolehan DPK senilai Rp22,65 triliun pada September 2020. Dengan kinerja bisnisnya, BTN Syariah meraih laba bersih senilai Rp112,34 miliar pada kuartal III/2020.

    Mengincar Best Mortgage Bank

    Pahala menuturkan Bank BTN juga mengincar posisi sebagai Bank Pembiayaan Perumahan Terbaik di Asia Tenggara pada 2025. “Sebagai Best Mortgage Bank, kami akan mencatatkan profit dan aset tertinggi di antara pemain sejenis,” jelas Pahala.

    Berbagai strategi, tambahnya, telah disiapkan untuk menuju posisi tersebut pada lima tahun mendatang. Di antaranya melipatgandakan perolehan dana murah serta membuat akses pemilikan rumah kian murah dan mudah. Perseroan juga akan menyediakan berbagai fasilitas perbankan dan investasi untuk seluruh kalangan nasabahnya.

    Menurut Pahala, Bank BTN juga akan membangun portfolio berkualitas dengan NPL rendah yang sejalan dengan prinsip bisnis berkelanjutan. Bank spesialis pembiayaan perumahan ini pun mengincar menjadi innovator di sisi digital dan rumah bagi putra-putri terbaik bangsa. “Dengan menjadi yang terbaik, kami pun akan memberikan yang terbaik bagi masyarakat Indonesia terutama dalam hal penyediaan rumah yang terjangkau,” tegas Pahala. (*)

  • Inovasi Di Masa Pandemi

    JAKARTA,KORIDOR—Kebijakan pemerintah dalam menekan angka penularan COVID-19 dengan cara melakukan berbagai pembatasan di segala bidang terus memukul sektor usaha, termasuk properti. Selama ini sektor yang digadang-gadangkan mempengaruhi 174 industri dan diakui menyerap sebanyak 30 juta tenaga kerja itu, menjadi salah satu pundi-pundi pertumbuhan ekonomi. Namun, sektor ini kini tiarap, akibat pandemi yang entah kapan akan berakhir.

    Ketua Umum Perusahaan Realestat Indonesia (REI) Totok Lusida mengatakan untuk mengatasi hal itu maka tidak ada jalan, kecuali melakukan berbagai inovasi, menyesuaikan dengan era new normal dengan memanfaatkan teknologi digital.

    “Inovasi ini tidak hanya di bidang pemasaran yang memanfaatkan layanan digital agar pembeli dan penjual tidak perlu bertemu langsung. Namun juga memberikan keringanan dan fasilitas dalam hal bertransaksi melalui kerja sama dengan perbankan,” ungkapnya, beberapa waktu lalu.

    Bertemu secara fisik memang tidak bisa dihindari seperti konsumen melakukan kunjungan ke proyek untuk melihat langsung lokasi. Namun untuk hal-hal lain dapat dilaksanakan melalui dunia digital.

    Soal inovasi ini memang beragam caranya. Yang jelas dari konsumen berupaya mendapatkan properti dengan harga sesuai penghasilannya, sedangkan dari pengembang berharap unit yang dipasarkan dapat segera terjual sehingga dana bisa diputar untuk bisnis berikutnya.

    Salah satu terobosan dilakukan perusahaan rintisan  Unicorn Asset Technology yang berupaya agar dalam membeli properti bukanlah sesuatu yang memberatkan bahkan bisa didiskon sampai 70 persen dari harga sebenarnya.

    Co-Founder & Chief Strategi Officer Unicorn Asset Technology Indra Setiawan mengatakan, salah satu upaya mendapatkan properti dengan harga yang ringan dengan mengombinasikan dengan sektor-sektor yang dapat memberikan pendapatan maksimal.

    Di tengah pandemi sekarang membeli rumah bisa memanfaatkan perdagangan valas (forex) meski diakui ada risiko namun apabila dipelajari dengan benar risiko itu dapat diminimalkan. Perdagangan valas itu tidak perlu hadir di kantor bisa di jalankan dari rumah hasilnya juga lumayan sebagian bisa disisihkan untuk membeli rumah. Tujuannya setelah pandemi berakhir harga rumah akan naik di saat itu kita bisa meraih untung.

    Memang tidak mudah untuk berdagang valas. Untuk itu pihaknya saat ini masih memberikan prioritas kepada anggota. Itu pun sebelumnya harus ada semacam pelatihan dan simulasi terlebih dahulu untuk menghindarkan risiko.

    Sedangkan dari kalangan pengembang ada yang membuat terobosan menjual unit apartemen dengan sistem lot. Satu unit apartemen itu bisa dimiliki sampai sepuluh orang.

    Adalah Direktur Prioritas Land Indonesia Marcellus Chandra yang memiliki ide demikian mengingat di saat pandemi sekarang ini daya beli konsumen turun. Namun dengan satu unit bisa dimiliki sampai 10 orang tentunya akan ringan untuk membelinya. Imbal hasil juga lumayan dari hasil rental apartemen untuk kemudian dibagi pemilik sebanyak sepuluh orang itu yang ikut serta dalam sistem lot.

    Bahkan kalau ekonomi mulai membaik harga apartemen ikut mengalami kenaikan saat itu merupakan momentum yang tepat apabila apartemen itu ingin dijual untuk mendapatkan keuntungan (capital gain).

    Inovasi lain yang kini sedang ramai melalui pameran virtual justru dengan cara ini konsumen dapat lebih rinci mendapatkan informasi mengenai produk properti yang akan dibelinya. Bahkan pameran Indonesia Properti Expo (IPEX) 2020 yang diselenggarakan Bank Tabungan Negara (BTN) sampai diperpanjang karena tingginya minat masyarakat.

     

     

     

     

     

     

  • Pameran Properti Virtual Segera Berakhir, BTN Siapkan Jurus Pamungkas

    JAKARTA, KORIDOR—: PT Adhouse Clarion Events bekerja sama dengan Bank PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mengeluarkan jurus pamungkas, mengajak nasabah dan masyarakat luas agar segera mengunjungi Indonesia Properti Virtual Expo. Pasalnya, dalam dua hari ke depan pameran properti secara virtual lewat situs ipex.btnproperti.co.id ini akan berakhir.

    “Berbagai kemudahan kepemilikan hunian seperti keringanan uang muka (DP/down payment), diskon biaya administrasi, provisi, dan appraisal, belum tentu bisa didapatkan masyarakat. Ini kesempatan emas yang langka, sayang kalau tidak dioptimalkan dengan segera mengajukan KPR/KPA,” ajak Vice President Non-Subsidized Mortgage and Consumer Lending Division Bank BTN Suryanti Agustinar, Selasa (13/10).

    Sesuai rencana, lanjut dia, sejatinya event tersebut berahir pada 30 September 2020. Namun, melihat antusiasme masyarakat yang cukup tinggi, Bank BTN memilih untuk memperpanjang waktu penyelenggaraan pameran hingga 15 Oktober 2020, dengan harapan mendapatkan pengunjung serta transaksi yang lebih banyak.

    Tidak kurang dari 200 developer komersil dan subsidi dengan lebih dari 500 proyeknya, turut ambil bagian dalam meramaikan pameran properti secara virtual tersebut. “Kami berharap pengunjung pameran bertambah lagi. Kami ingin menembus sampai 2 juta pengunjung. Karena itu, waktu pameran kami perpanjang,” katanya.

    Suryanti mengatakan selain untuk menggaet lebih banyak pengunjung, perpanjangan waktu pameran ini juga dilakukan karena permintaan para developer. Dengan adanya pameran virtual ini mereka mengaku sangat terbantu sehingga menginginkan adanya waktu tambahan. “Bagi yang belum sempat memanfaatkan kemarin, segera pilih rumah idamannya dan ajukan secara online ke BTN,” ujarnya.

    Menurut dia, dalam pameran yang bisa diakses melalui kanal ipex.btnproperti.co.id ini, masyarakat bisa memilih rumah sesuai keinginannya melalui creative content serta interaksi langsung dengan penjual secara digital. Pengunjung pun dapat menikmati pengalaman melihat unit melalui teknologi 4 dimensi.

    Program juga dilengkapi dengan beragam aktivitas online menarik, pelayanan penjualan selama 24 jam, dan customer support. “Ada beragam promo yang disediakan di antaranya seperti KPR Gaeesss! for Millennials, Kredit Agunan Rumah – New Normal, Indonesia Properti Virtual Expo 2020, hingga Program Bank BTNSyariah – Indonesia Properti Virtual Expo 2020,” ungkapnya berpromosi.(eza)

  • Sektor Perumahan jadi Kunci Mengatasi Resesi Ekonomi

    KORIDOR, JAKARTA– Krisis ekonomi sudah tak terelakkan lagi karena per definisi ekonomi nasional minus berturut-turut dalam 2 (dua) kwartal. Tidak hanya itu, Indonesia Juga memasuki babak baru ekonomi dengan pertumbuhan nol atau minus tahun 2020 ini dan juga masih belum pasti pada 2021 nanti skenarionya akan seperti apa.

    Anjlognya ekonomi menjadi minus dan kondisi resesi ini membuat semua mandeg. Mesin-mesin produksi melambat atau berhenti yang berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) dan peningkatan pengangguran.

    “Pertumbuhan ekonomi minus ini menimbulkan masalah besar bagi masyarakat, dunia usaha dan tentu bagi negara, apalagi bersamaan kejadian dengan bencana Pandemi Covid-19. Dua kejadian besar sekaligus yaitu Pandemi dan Resesi ini membuat kita semua seolah-olah berada dalam situasi ‘going no-whrere’  bila tidak diatasi secara serius dan bersama-sama melibatkan seluruh elemen masyarakat,” ungkap Lukman Purnomosidi, Praktisi Pengembang Properti Nasional.

    Lukman Purnomosidi

    Menurut Ketua Kehormatan Real Estat Indonesia (REI) itu, saat ini bangsa Indonesia tergagap-gagap menghadapi Resesi ini karena kita selama 15 tahun terakhir Indonesia selalu berada dalam pertumbuhan ekonomi di atas 5%. “Karenanya semua elemen masyarakat perlu diajak partisipasinya untuk mencari potensi dan peluang-peluang guna mencari cara keluar dari jurang resesi yg kita hadapi saat ini,” ujar Lukman.

    Solusinya menurut Lukman, semua pihak harus mampu mencari bagaimana caranya agar mesin-mesin ekonomi yang berhenti bergerak (mandeg) tersebut kembali berputar seperti semula. “Kita harus ‘kembali ke laptop’. Salah satunya bisa dimulai dari sektor perumahan. Saya pikir sektor perumahan merupakan sektor strategis yang bisa menjadi ‘pengungkit’ berputar kembalinya ekonomi yang sedang resesi,” terangnya.

    Pendapat Peraih gelar Doktor bidang Business Administration di Fakultas Ilmu Adiministrasi, Universitas Brawijaya Malang ini tentu bukan tanpa asalan. Pasalnya, sektor perumahan sangat dibutuhkan oleh masyarakat, dan punya multiplier ekonomi sangat luas karena bisa menghidupkan lebih dari 140 sektor-sektor  produksi. Dan diperkirakan tidak kurang dari 3 juta tenaga kerja terkait dengan industri perumahan berserta industri turunannya tersebut.

    “ Faktor lainnya, sektor perumahan ini mudah di-start, dan penyebaran nya langsung cepat bisa meluas ke 500 kab/kota. Hebatnya lagi, sektor perumahan ini memiliki 90% adalah lokal konten,” katanya.

    Gerakan Masif Pembangunan Perumahan Bersubsidi

    Karena itu Lukman menambahkan, upaya menggerakkan Sektor Perumahan untuk mengatasi Resesi ini ada baiknya mulai dari Gerakan Masif Pembangunan Perumahan Bersubsidi, baik yang rumah tapak maupun rumah susun. Kalau sekarang masih menggunakan ‘Program Sejuta Rumah’ ini juga baik untuk dilanjutkan kembali.

    “Dengan sudah tersedianya ‘Mesin Produksi’ berupa 5000-an Pengembang Perumahan Aktif Anggota REI dan juga Asosiasi Lainnya, adanya Kebutuhan Masif hunian perkotaan dari elemen masyarakat Anggota ASN, Anggota TNI/Polri dan Pekerja Swasta maka Gerakan Masif menghidupkan ‘mesin produksi’ ini adalah opsi Strategi ‘Quick Win’ yang perlu dipertimbangkan Pemerintah,” usul Ketua DPP REI Periode 2004-2007 ini.

    Lebih lanjut ia menjelaskan, dengan Formula 1:2:3 maka setiap pengembang membangun 1.000.000 rumah Sederhana (Asumsi FLPP Harga Rp. 150-200 juta), maka akan tumbuh Rumah Menengah (Asumsi Harga Rp.200 juta) juga Rumah Menengah Atas (Harga Rp1-3 miliar) serta fasilitas-fasilitas komersial dan pendukung lainnya.

    Trigger Factor dari konsep pembangunan ini dapat dimulai dengan Gerakan Masif Pembangunan Perumahan Subsidi bagi ASN, TNI/POLRI dan Pegawasi swasta. Dalam suasana Pandemi Covid19 ini layak kiranya didahulukan bagi Pegawai-pegawai Sektor Medis dan Para Guru dan kelompok-kelompok lain yang memang layak diprioritaskan. Ketika Program ini menggelinding maka mesin-mesin produksi sektor perumahan ini akan berputar secara sistematis ‘menyembuhkan’ Resesi Ekonomi,” tutur Lukman

    Lebih Rinci dijelaskannya, angka – angka langsunganya akan cukup besar, katakanlah dengan Formula 1:2:3 tersebut di atas maka akan terbangun 1.000.000 Rumah Sederhana plus 666.000 Rumah Menengah dan 333.000 Rumah Menengah Atas nilainya tidak kurang dari Rp.1.200 Triliun. Ini adalah jumlah yg sangat berarti untuk membangkitkan kembali Ekonomi dari cengkaraman krisis Ekonomi saat ini.

    Sebenar dampak ekonominya masih lebih luas dari Rp. 1200 triliun karena kita belum memperhitungkan Multiplier Efeknya. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa multiplier effect dari Sektor Perumahan adalah 3.0-3.5. Artinya bila membangun Perumahan Senilai Rp1200 triliun maka secara keseluruhan bangkitan ekonomi adalah tidak kurang dari Rp. 3600 triliun. Dengan demikian maka bila Program ini diluncurkan maka implikasinya akan sangat luas dimana mesin-mesin ekonomi sektor perumahan dan industri bahan-bahan pendukungnya akan melaju pesat kembali.

    “Tentu saja implikasi tenaga kerja yg dibutuhkan adalah linier dengan angka-angka tersebut. Sekedar catatan bersama bahwa rata-rata tenaga kerja yg terlibat untuk membangun sebuah Rumah Sederhana sekitar 10 orang tukang terdiri dari 7 tenaga kerja langsung dan 3 tenaga kerja tidak langsung,” imbuhnya.

    Sektor Perumahan Sebagai Mesin Penggempur Resesi Ekonomi

    Ia pun mencotohkan bahwa Di Amerika Serikat (AS), indikator utama ekonomi adalah industri mobil dan industri perumahan. “Saya rasa ekonom kita pun punya indikator ekonomi yang mirip juga. Kalau hal ini dicermati di Indonesia rasanya juga memang mirip-mirip, artinya secara sederhana kita bisa sepakat mengatakan bahwa sektor otomotif dan sektor perumahan adalah sektor potensial untuk jadi ‘mesin penggempur’ resesi ekonomi yg kita hadapi ini,” pungkas Lukman.

    Ya, Kalau pada saat resesi ekonomi ini Pemerintah sedang mempertimbangkan sektor otomotif mau ‘di-engkol’ menjadi pendorong ekonomi melalui ‘Pembebasan PPN’, tentu ada baiknya Pemerintah mempertimbangkan Sektor Perumahan untuk ‘di-engkol’ juga utk mengeluarkan kita dari jurang krisis ekonomi. Tentu cara meng-engkol Sektor Perumahan tidak sama persis dengan Sektor Otomotif, namun kalo memang ‘diniati’ banyak yang faham cara-cara meng-engkolnya.

    Berbeda dengan otomotif yang mesin produksinya berupa pabrik-pabrik atau belanja infrastruktur via APBN, sektor perumahan ini merupakan kombinasi antara memenuhi kebutuhan pokok Papan sekaligus juga menggerakkan ekonomi.(Zh)

  • Pengembang Lirik Potensi Pembiayaan Perumahan Berbasis Syariah

    KORIDOR, JAKARTA – Pembiayaan perbankan syariah di Indonesia terus bertumbuh agresif. Bisnis properti menjadi salah satu sektor yang berkontribusi besar dalam mendorong berkembangnya tren pembiayaan syariah, yang ditandai dengan tingginya minat masyarakat untuk menggunakan kredit pemilikan rumah (KPR) berbasis syariah.

    Per Juni 2020, menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) total pembiayaan pembiayaan bank syariah tercatat mencapai Rp367,02 triliun, atau meningkat 10,18% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp333,08 triliun.

    Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida mengakui tren pembiayaan properti syariah dalam beberapa tahun terakhir terus meningkat. Bahkan, menurut dia, saat ini KPR berbasis syariah bukan hanya diminati oleh umat Muslim saja, namun juga masyarakat non-Muslim. REI pun mendorong terus pengembangan pembiayaan perumahan berbasis syariah.

    “Pembiayaan berbasis syariah terutama KPR ini semakin diminati masyarakat, bahkan trennya sekarang banyak masyarakat yang bukan beragama Islam juga memilih menggunakan produk KPR dari bank syariah karena dinilai lebih stabil bagi enduser,” ujar Totok dalam diskusi webinar bertajuk “Alternatif Perbankan Syariah untuk Pembiayaan Perumahan” yang diadakan DPP REI, Selasa (29/9).

    Namun disisi lain, tren tersebut belum diikuti informasi yang jelas kepada masyarakat untuk memahami secara benar mengenai perbankan syariah. Akibat ketidakpahaman tersebut, akhirnya dimanfaatkan oknum yang mengatasnamakan syariah namun sebenarnya tidak menjalankan syarat-syaratnya secara benar untuk melakukan aksi penipuan.

    “Kita semua berkewajiban memberikan informasi dan pemahaman kepada masyarakat mengenai konsep-konsep syariah ini secara benar termasuk konsep pembiayaannya. Tidak hanya kepada masyarakat, tetapi juga buat pengembang,” ujar Totok.

    Dengan pertimbangan itulah, REI menginisiasi diskusi mengenai perbankan syariah yang diikuti anggota dari seluruh Indonesia supaya memiliki pemahaman yang sama mengenai konsep perbankan syariah, sekaligus melihatnya sebagai alternatif pembiayaan.

    Wakil Ketua Umum Koordinator DPP REI Bidang Pembiayaan dan Perbankan, Umar Husin, menambahkan dukungan pemerintah terhadap pengembangan perbankan syariah semakin baik dan dibuktikan dengan meningkat transaksi pembiayaan syariah secara nasional. Dia meyakini tren pembiayaan properti secara syariah akan terus meningkat di masa mendatang.

    “Khusus untuk Bank BTN, kami sangat berharap bisa menjadi bank sendiri bukan hanya unit usaha syariah supaya modal makin kuat dan bisa lebih banyak membiayai sektor properti,” harap Umar.

    Alternatif Pembiayaan

    Kepala Divisi  BTN Syariah Alex Sofjan Noor menyebutkan bisnis berbasis syariah cukup berkembang, dimana share BTN mencapai 10% di atas rata-rata industri yang hanya 6%. Oleh karena itu, seharusnya pembiayaan syariah untuk properti bukan saja menjadi alternatif namun pilihan yang terbaik karena jenis pembiayaan yang disediakan juga sangat beragam.

    “Apalagi sebagian besar penduduk Indonesia beragama Islam, meski pun memungkinkan bagi umat agama lain untuk juga dibiayai secara syariah,” ungkap Alex.

    BTN Syariah selain memberikan pembiayaan kepada end-user atau masyarakat juga memiliki pembiayaan modal kerja bagi pengembang baik untuk konstruksi maupun pembebasan lahan. Sementara dari sisi permintaan, KPR Syariah BTN bisa membiayai subsidi maupun non-subsidi.

    Untuk non-subsidi BTN Syariah memiliki pembiayaan untuk kepemilikan rumah, apartemen, ruko baik indent maupun ready stock dengan akad yang berbeda-beda dan juga margin berbeda yang bisa disesuaikan dengan kemampuan nasabah dengan tetap mengedepankan prinsip-prinsip syariat.

    Alex mengapresiasi prakarsa DPP REI untuk memberikan informasi yang luas kepada pengembang dan masyarakat mengenai konsep perbankan syariah secara benar. Dia juga tidak memungkiri kalau syariah kerap kali tercoreng oleh oknum yang sebenarnya hanya berkedok syariah.

    “Calon konsumen harus bisa lebih selektif dan berhati-hati untuk memastikan apakah pengembang dan perbankan syariah tersebut telah menerapkan hukum jual beli secara syariah, termasuk transparansi, dan juga keamanan,” ungkap Alex.

    Direktur Bisnis Ritel dan Jaringan BNI Syariah Iwan Abdi menyebutkan pihaknya merupakan satu-satunya perbankan syariah yang bisa melakukan pengembangan sendiri. Sebab selain memberikan pembiayaan konstruksi, BNI Syariah juga melakukan kerjasama pengembangan, pembiayaan modal kerja, dan pembiayaan KPR baik subsidi maupun non-subsidi (komersil).

    Menurut dia, BNI Syariah juga memiliki keunggulan karena bisa memberikan pembiayaan untuk membangun di atas tanah wakaf, dan pembiayaan ini tidak dimiliki perbankan syariah lainnya. “Singkatnya, BNI Syariah memberikan setidaknya dua benefit sekaligus, yaitu halal dan berkah,” ujar Iwan.

    Menurut Iwan, minat masyarakat untuk menggunakan pembiayaan syariah akan terus berkembang. Hal itu karena banyak orang sadar kalau syariah adalah sistem ekonomi yang tepat, meski tentu saja bukan berarti tanpa masalah.

    “Saat ini masalahnya adalah literasi mengenai syariah, oleh karena itu butuh sinergi dengan semua pemangku kepentingan untuk bisa menemukan jalan keluar sehingga tidak ada lagi oknum yang mencoreng nama baik syariah,” kata Iwan.

    BRI Syariah juga menjadi bank berbasis syariah dengan pertumbuhan cukup tinggi. BRI Syariah berhasil mencatatkan pertumbuhan pembiayaan sebesar 59,88% dibanding periode yang sama tahun lalu, yang ditopang oleh pertumbuhan pembiayaan segmen ritel dan pembiayaan KPR.

    “Kami terus bertransformasi untuk bisa menjadi lebih baik dan sangat membuka diri untuk bekerjasama dengan pengembang termasuk anggota REI untuk bisa membiayai lebih banyak lagi rumah dengan tetap mengedepankan aturan yang berlaku,” kata Fidri Arnaldy, Direktur Bisnis Ritel BRI Syariah.

    BRI Syariah juga tercatat menjadi salah satu bank pelaksana yang terbanyak menyalurkan KPR FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) pada tahun ini dan juga mendapatkan tambahan kuota.

    Fidri mengatakan strategi BRI Syariah untuk menyalurkan KPR FLPP adalah dengan menggandeng developer yang memiliki reputasi baik dan berkomitmen membangun rumah harga terjangkau berkualitas baik, menyasar pada kelompok pekerja. (*)

  • Tiga Proyek Perumahan Ini Jadi Kontributor Terbesar Metland

    JAKARTA, KORIDOR – Tiga proyek perumahan yakni Metland Cibitung, Metland Cileungsi dan Metland Menteng menjadi kontributor terbesar penjualan pemasaran (marketing sales) PT Metropolitan Land Tbk. atau Metland di semester I-2020.

    “Penjualan rumah di segmen middle to middle low di Metland Cibitung dan Metland Cileungsi masih cukup baik, begitu pula di Metland Menteng” ujar Olivia Surodjo, Direktur PT Metropolitan Land Tbk pada acara paparan publik mengenai kinerja perusahaan, Senin (28/9).

    Hingga Juni 2020, Metland  mencatatkan pendapatan versi marketing sales sebesar Rp540 miliar atau 27% dari target awal perseroan di tahun 2020 sebesar Rp2 triliun. Pendapatan tersebut disumbang dari presales properti sebesar Rp365 miliar dan pendapatan berulang sebesar Rp175 miliar.

    Sementara itu, pada semester I 2020 Metland membukukan pendapatan usaha sebesar Rp390 miliar dan laba bersih sebesar Rp88 miliar, atau turun dibandingkan pada periode yang sama tahun 2019.

    Penurunan ini sejalan dengan kondisi perekonomian global dan Indonesia yang mengalami perlambatan akibat pandemi Covid-19, selain itu pendapatan berulang yang lebih rendah dari properti komersial karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang berlaku penuh selama kurang lebih dua setengah bulan.

    “Proyek perumahan kami juga terdampak karena PSBB, karena segmen konsumen utama kami yang merupakan pengguna akhir (end user) kebanyakan lebih memilih menyimpan uang tunai untuk melewati masa pandemi” ujar Olivia.

    Proyek Berjalan

    Metland memutuskan untuk melakukan penundaan pengembangan proyek-proyek baru maupun pembangunan proyek-proyek komersial yang sedang berlangsung saat ini. Hal itu dikarenakan kondisi ekonomi yang belum memungkinkan.

    Rumah Sakit Hermina Cibitung yang berada dalam kawasan Metland Cibitung telah melakukan peletakkan batu pertama (ground breaking) pembangunan tahap pertama pada 25 September 2020. Pembangunan Rumah Sakit Hermina Cibitung dibangun di lahan kurang lebih 6.000 meter persegi dengan total 6 lantai dan 150 tempat tidur.

    Fasilitas di RS ini meliputi radiologi, laboratorium, ruang operasi, ruang ginekolog serta fasilitas pendukung lainnya. Rumah Sakit yang ditargetkan akan dibuka pada 2021 ini diharapkan menjadi salah satu fasilitas yang dapat digunakan oleh penghuni di kawasan Metland Cibitung.

    Perseroan juga terus melanjutkan pemasaran proyek residensial seperti Metland Menteng yang tengah memasarkan klaster Jura Tipe B Plus dengan 3 kamar tidur dan luas bangunan 70 m2. Begitu pula dengan rumah middle to middle low di Metland Cileungsi yang memasarkan hunian tipe Lavanya dengan 2 kamar dan luas bangunan 46 m2, serta Metland Puri yang akan launching tipe rumah baru pada Oktober mendatang, demikian juga Metland Cibitung.

    Saat ini Metland sedang menjalankan program New Normal New Home yang memberikan kemudahan diskon hingga Rp500juta-an, harga termasuk biaya BPHTB, KPR dan AJB hingga hadiah menarik berupa kitchen set, air conditioner (AC), logam mulia dan voucher belanja sampai dengan 10 juta rupiah (syarat dan ketentuan berlaku).

    Program ini diikuti oleh seluruh proyek residensial dan apartemen Metland yaitu Metland Menteng, Metland Puri, Metland Transyogi, Metland Cileungsi, Metland Tambun, Metland Cibitung, Metland Cyber City, M Gold Tower dan Kaliana Apartment.

    Produk yang bisa diperoleh dari program ini juga beragam mulai dari rumah ready stock, rumah indent, unit apartemen, kavling dan ruko.

Back to top button