Finansial

  • Bank Jakarta Tuntaskan 100% Penyaluran Dana Pemerintah Senilai Rp1 Triliun

    JAKARTA, KORIDOR.ONLINE — Bank Jakarta mengumumkan bahwa penyaluran dana pemerintah pusat sebesar Rp1 triliun yang ditempatkan melalui Kementerian Keuangan pada November 2025 telah selesai disalurkan sepenuhnya. Penyaluran dilakukan dalam periode 12–21 November 2025 dan telah dilaporkan secara resmi kepada Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

    Penempatan dana tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat likuiditas perbankan daerah sekaligus mempercepat pemulihan dan pertumbuhan ekonomi melalui pembiayaan sektor-sektor produktif di wilayah Jakarta.

    Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, menyampaikan apresiasi dan komitmen atas kepercayaan pemerintah pusat:

    “Kami mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Keuangan atas penempatan dana yang diberikan. Kepercayaan ini menjadi energi penting bagi Bank Jakarta untuk memperkuat fungsi intermediasi dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat serta perekonomian daerah.”

    Agus menegaskan bahwa keberhasilan penyaluran ini mencerminkan kesiapan operasional Bank Jakarta dalam mendukung mandat kebijakan fiskal pemerintah melalui penyaluran pembiayaan yang produktif dan terukur.

    “Bank Jakarta siap menerima dan mengelola penempatan dana berikutnya dalam jumlah lebih besar. Dengan tata kelola yang baik, prinsip kehati-hatian, serta fokus pada sektor produktif, kami memastikan bahwa setiap dana yang ditempatkan pemerintah memberikan manfaat nyata dan terukur.”

    Bank Jakarta menyalurkan dana secara tepat sasaran dengan fokus pada sektor-sektor produktif yang memberikan dampak multiplier effect tinggi terhadap perekonomian daerah, termasuk pembiayaan UMKM dan sektor padat karya.

    Setelah penyaluran dana pemerintah selesai, Bank Jakarta melanjutkan ekspansi pembiayaan dengan menggunakan likuiditas internal yang dikelola secara sehat, terukur, dan berkelanjutan. Dengan komitmen mendukung agenda percepatan ekonomi nasional, Bank Jakarta telah menyiapkan pipeline pembiayaan strategis untuk mengelola potensi penempatan dana pemerintah dalam skala lebih besar. Perencanaan dilakukan sesuai prinsip kehati-hatian, manajemen risiko yang kuat, dan tata kelola yang baik.

    Fundamental Bank Tetap Solid

    Kinerja dan ketahanan Bank Jakarta tetap dalam kondisi optimal, ditunjang oleh:

    • Tingkat Kesehatan Bank kategori “Sehat” sesuai hasil penilaian OJK semester I 2025

    • Likuiditas yang kuat dan terjaga

    • Kualitas aset yang baik dengan Non-Performing Loan (NPL) terkendali

    Kondisi ini memastikan kapasitas Bank Jakarta untuk menjalankan mandat penyaluran pembiayaan dalam skala signifikan secara akuntabel dan berkesinambungan.

  • Diamond Citra Propertindo Tumbuh Positif di Kuartal III 2025

    JAKARTA, KORIDOR.ONLINE — PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) mencatat pertumbuhan kinerja keuangan yang signifikan pada Kuartal III 2025. Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp883 juta, melonjak tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp171 juta. Capaian ini menandai momentum pemulihan setelah tekanan finansial yang dialami sepanjang 2024 dan pada Kuartal I 2025.

    Direktur PT Diamond Citra Propertindo Tbk, Bayu Setiawan, menyampaikan bahwa peningkatan laba tersebut mendorong kenaikan nilai bagi pemegang saham, dengan laba bersih per saham (earnings per share/ EPS) tercatat sebesar Rp0,119.

    “Performa ini mencerminkan stabilisasi operasional dan efektivitas strategi efisiensi yang kami terapkan sejak awal tahun. Setelah melalui fase penyesuaian di 2024 dan Kuartal I 2025, kami melihat tren pemulihan yang semakin menguat,” jelas Bayu.


    Perbandingan Kinerja Laba Bersih DADA

    Periode Laba Bersih
    Kuartal III 2025 Rp 883 juta
    Kuartal III 2024 Rp 171 juta
    Kuartal I 2025 Rp 204 juta
    Kuartal I 2024 Rp 246 juta

    Menurut Bayu, lonjakan kinerja di Kuartal III menjadi indikator penting pemulihan bisnis Perseroan, terutama didorong oleh efisiensi biaya, peningkatan pendapatan proyek berjalan, serta perbaikan manajemen arus kas.

    “Kenaikan laba ini menunjukkan kemampuan Perseroan bangkit setelah melewati periode tantangan. Fokus kami selanjutnya adalah menjaga kesinambungan pertumbuhan agar kinerja tetap menguat hingga akhir tahun,” tambahnya.

    Dengan tren kinerja yang membaik, manajemen menyatakan optimistis terhadap prospek Perseroan hingga penutupan tahun buku 2025. DADA juga memastikan akan melanjutkan strategi bisnis berbasis efisiensi dan peningkatan produktivitas untuk menopang pertumbuhan berkelanjutan.

  • BP Tapera Catat Rekor Penyaluran FLPP Tertinggi Sepanjang Sejarah

    JAKARTA, KORIDOR.ONLINE  — Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) mencatat tonggak sejarah baru dalam penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Hingga 27 November 2025, penyaluran FLPP telah mencapai 231.343 unit rumah dengan nilai pembiayaan sebesar Rp28,72 triliun, sekaligus menjadikan 2025 sebagai tahun dengan realisasi FLPP tertinggi sejak program ini diluncurkan pada 2010. Capaian ini melampaui rekor tertinggi sebelumnya yang dicatat pada tahun 2023.

    Sejak pertama kali dilaksanakan, program FLPP menunjukkan dinamika penyaluran. Pada 2010, FLPP disalurkan untuk 7.959 unit. Penyaluran melonjak pada 2011 menjadi 109.592 unit, kemudian berfluktuasi di tahun-tahun berikutnya: 64.785 unit (2012), 102.711 unit (2013), 76.057 unit (2014), dan turun ke 58.469 unit (2015). Penyaluran terendah terjadi pada 2017 dengan 23.763 unit.

    Mulai 2018, tren kembali meningkat signifikan: 57.939 unit (2018), 77.835 unit (2019), 109.253 unit (2020), 178.728 unit (2021), 226.000 unit (2022), dan 229.000 unit (2023). Adapun pada 2024, penyaluran menurun menjadi 200.300 unit sebelum kembali melonjak tajam di 2025.

    Komisioner BP Tapera, Heru Pudyo Nugroho, menyampaikan apresiasi atas pencapaian tersebut.

    “Rekor ini merupakan buah dari kerja keras semua pihak. Terima kasih kepada bank penyalur, asosiasi, para pengembang, dan seluruh pelaku ekosistem perumahan yang terus berjuang agar masyarakat berpenghasilan rendah memiliki rumah pertamanya,” ujar Heru.

    Kesuksesan penyaluran tahun ini tercapai melalui kolaborasi 39 bank penyalur, 22 asosiasi pengembang, 7.785 pengembang, dengan jangkauan 12.450 proyek perumahan di 33 provinsi dan 399 kabupaten/kota.

    FLPP tahun ini juga berhasil menyentuh beragam kelompok profesi. Penerima manfaat terbesar berasal dari tenaga kerja sektor buruh sebanyak 42.609 unit, disusul kategori profesi umum (12.999 unit). Profesi lain yang menikmati program ini meliputi guru (2.090), tenaga kesehatan (1.448), anggota Polri (894), perawat (692), petani (601), bidan (206), TNI AD (197), wartawan (73), serta ASN (89).

    Dilihat dari latar belakang pekerjaan, penerima FLPP didominasi sektor swasta sebesar 74,62%, disusul wiraswasta 13,19%, PNS 7,33%, TNI 1,95%, dan kelompok pekerjaan lainnya 2,91%.

    Melihat semakin besarnya manfaat sosial dan ekonomi dari program ini, Heru mengajak masyarakat yang belum memiliki rumah untuk segera memanfaatkan fasilitas tersebut.

    “Kesempatan ini terbuka bagi masyarakat yang memenuhi syarat. Segera ajukan, dan wujudkan rumah pertama untuk masa depan yang lebih baik,” ajaknya.

  • BSI Optimistis Sektor Properti Jadi Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi 2026

    JAKARTA, KORIDOR.ONLINE — PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI menilai prospek sektor properti nasional masih sangat menjanjikan dan berpotensi menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi pada tahun 2026. Optimisme ini didukung oleh perbaikan kondisi makroekonomi dan arah kebijakan pemerintah yang dinilai semakin pro terhadap sektor perumahan.

    Senior Vice President Consumer Business BSI, Praka Mulia Agung, mengungkapkan bahwa pembiayaan sektor properti, khususnya Kredit Pemilikan Rumah (KPR), terus menunjukkan tren positif. Hingga Juni 2025, KPR nasional tumbuh sebesar 7,66%, sedangkan pembiayaan BSI Griya mencatat pertumbuhan 8,51%, melampaui rata-rata industri dan lebih tinggi dibandingkan capaian tahun lalu yang tumbuh 8,22%.

    Sektor properti tidak pernah mengalami pertumbuhan negatif, bahkan saat pandemi Covid-19. Fluktuasi wajar terjadi karena keputusan membeli rumah merupakan keputusan jangka panjang,” ujar Praka dalam acara Inabank Investment & Property Outlook: Peluang dan Tantangan Bisnis Tahun 2026 di Jakarta, Rabu (12/11).

    Lebih lanjut, Praka menjelaskan bahwa meski porsi pembiayaan perumahan belum menjadi yang dominan dalam portofolio BSI, namun kinerjanya tergolong solid. Per September 2025, outstanding BSI Griya menempati posisi enam besar pertumbuhan tertinggi di antara bank nasional dengan kenaikan 4,68%, sementara rasio Non Performing Financing (NPF) tetap terjaga di level 2,10%.

    “Banyak bank kompetitor yang tumbuh tapi diikuti kenaikan NPF. Di BSI, kami menjaga kualitas pembiayaan sebagai prioritas utama,” imbuhnya.

    Praka menilai sejumlah faktor akan menjadi katalis pertumbuhan sektor properti di tahun depan, mulai dari kebijakan perpanjangan insentif PPN Ditanggung Pemerintah (PPn DTP) hingga tren penurunan suku bunga acuan. Menurutnya, kedua faktor tersebut berpotensi mendorong daya beli masyarakat, khususnya segmen menengah, terhadap pembiayaan rumah syariah.

    “Kami melihat indikasi perekonomian yang mengarah ke sektor perumahan akan terus membaik. Insya Allah, di tahun 2026 BSI tetap berkomitmen menyalurkan pembiayaan untuk sektor ini,” kata Praka.

    Dalam forum yang sama, Kepala Badan Advokasi dan Perlindungan Anggota DPP REI, Adri Istambul Lingga Gayo, mengungkapkan bahwa penjualan rumah tipe kecil masih menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 14,95% pada triwulan III 2025. Sebaliknya, penjualan rumah tipe besar mengalami penurunan hingga 23%.

    Adri menilai bahwa sektor perumahan masih menjadi mesin penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional, namun memerlukan dukungan fiskal dan kebijakan pembiayaan yang lebih inklusif agar dampaknya semakin luas.

    Meski prospeknya menjanjikan, industri properti masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dari sisi pembiayaan konsumen. Berdasarkan data REI, sekitar 70% pengajuan KPR atau pembiayaan rumah tertolak akibat ketentuan pada Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK, terutama karena riwayat pinjaman online (online lending).

    “Banyak masyarakat kita yang gagal KPR karena tercatat di daftar hitam BI Checking akibat pinjaman online. Kami mengimbau agar masyarakat lebih berhati-hati dan selektif dalam mengakses layanan keuangan,” ujar Adri.

    Selain itu, Adri menyoroti daya serap pasar yang fluktuatif, biaya investasi tinggi, serta lamanya proses sertifikasi tanah sebagai hambatan yang masih perlu dibenahi.

    “Sertifikasi lahan yang rumit dan mahal masih menjadi bottleneck yang menghambat investasi sektor perumahan,” pungkasnya.

    Optimisme BSI sejalan dengan semangat kolaboratif antara lembaga keuangan dan pelaku industri properti. Sinergi ini diharapkan mampu memperluas akses pembiayaan, menekan backlog perumahan, sekaligus mendorong pertumbuhan sektor riil yang lebih inklusif.

    Dengan performa pembiayaan yang sehat, rasio risiko yang terjaga, serta dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang kondusif, sektor properti diyakini akan menjadi salah satu sektor unggulan yang menggerakkan roda perekonomian nasional pada tahun 2026.

  • Bank Jakarta Catat Kinerja Positif, Aset Tembus Rp90,72 Triliun hingga Triwulan III-2025

    JAKARTA, KORIDOR.ONLINE — Kinerja PT Bank Pembangunan Daerah Jakarta (Bank Jakarta) menunjukkan hasil gemilang hingga triwulan III-2025. Total aset Bank Jakarta tercatat mencapai Rp90,72 triliun, tumbuh 12,37 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp80,74 triliun.

    Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, menjelaskan bahwa pertumbuhan aset perseroan didorong oleh peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp74,23 triliun, atau naik 16,90 persen (year on year/yoy) dari Rp63,50 triliun pada triwulan III-2024.

    “Kinerja positif ini merupakan hasil kerja keras seluruh insan Bank Jakarta dalam memperkuat peran sebagai Bank Pembangunan Daerah yang tangguh, sehat, dan berkelas nasional,” ujar Agus.

    Fokus pada Dana Murah dan Efisiensi Pendanaan

    Di tengah persaingan ketat industri perbankan, Bank Jakarta terus memperkuat struktur pendanaan melalui optimalisasi dana murah (CASA). Hasilnya, rasio CASA tumbuh signifikan hingga 59,85 persen (yoy). Capaian ini menjadi fondasi kuat bagi efisiensi biaya dana dan stabilitas likuiditas, sekaligus mendukung ekspansi pembiayaan yang berkelanjutan.

    “Kami terus bersinergi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan seluruh ekosistem ekonomi kota dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” tambah Agus.

    Pembiayaan UMKM Tumbuh Solid

    Penyaluran kredit dan pembiayaan Bank Jakarta juga menunjukkan pertumbuhan solid, terutama di segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang meningkat 16,14 persen (yoy) menjadi Rp6,62 triliun, dibandingkan Rp5,70 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

    “Pertumbuhan ini mencerminkan komitmen kami dalam mendukung produktivitas ekonomi daerah melalui pembiayaan yang inklusif dan berdampak luas,” jelas Agus.

    Ke depan, Bank Jakarta akan terus memperluas kolaborasi dengan pelaku UMKM di berbagai sektor produktif melalui pengembangan produk kredit yang lebih fleksibel — baik dari sisi tenor, suku bunga, maupun skema pembayaran.

    Penguatan Fundamental dan Transformasi Digital

    Sementara itu, Direktur Keuangan & Strategi Bank Jakarta, Basaria Martha Juliana, menegaskan bahwa perseroan secara konsisten memperkuat fundamental bisnis melalui pengelolaan risiko yang prudent, transformasi proses bisnis, serta optimalisasi teknologi digital.

    Dari sisi efisiensi, berbagai inisiatif dijalankan untuk menekan beban bunga dan biaya operasional. Upaya ini dilakukan melalui peningkatan porsi CASA dan penyesuaian suku bunga deposito korporasi, yang berhasil menurunkan beban bunga sebesar 7,77 persen hingga September 2025.

    “Pengelolaan operasional expenditure (OPEX) juga terus dioptimalkan melalui efisiensi proses bisnis, peningkatan produktivitas SDM, dan penyesuaian struktur biaya dengan prioritas strategis perusahaan,” ujar Basaria.

    Laba Bersih Naik, Dorong Kinerja Berkelanjutan

    Hingga triwulan III-2025, Bank Jakarta membukukan laba bersih sebesar Rp520,81 miliar, tumbuh 1,46 persen (yoy) dibandingkan Rp513,23 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan laba ini terutama ditopang oleh pendapatan bunga bersih yang meningkat 6,35 persen (yoy) dari Rp2,03 triliun menjadi Rp2,16 triliun.

    “Peningkatan pendapatan bunga bersih menjadi bukti efektivitas strategi efisiensi dan pengelolaan aset produktif yang kami jalankan,” pungkas Basaria.

  • Refleksi Satu Tahun FLPP di Era Presiden Prabowo

    JAKARTA, KORIDOR.ONLINE — Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) terus memperkuat komitmennya dalam mendukung Program Sejuta Rumah dengan menargetkan penyaluran KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk 350.000 unit rumah subsidi hingga akhir tahun 2025.

    Per 20 Oktober 2025, realisasi penyaluran FLPP yang dilakukan BP Tapera telah mencapai 203.439 unit rumah dengan nilai pembiayaan mencapai Rp25,24 triliun. Sejak 2022 hingga saat ini, total penyaluran FLPP oleh BP Tapera telah mencapai 858.739 unit rumah dengan nilai Rp101,3 triliun.

    Dari sisi kinerja tahunan (year on year), capaian FLPP di era Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan peningkatan yang konsisten. Selama periode 20 Oktober 2024–20 Oktober 2025, tercatat 237.859 unit rumah telah tersalurkan — naik 10,99% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 214.305 unit rumah.

    Khusus tahun berjalan 2025, kinerja penyaluran FLPP BP Tapera meningkat lebih tinggi lagi. Dibandingkan periode 1 Januari–20 Oktober 2024 sebanyak 165.880 unit rumah, kini pada periode yang sama tahun 2025 telah mencapai 203.439 unit rumah, atau tumbuh 22,63%.

    “Kami tetap optimistis target 350.000 unit rumah subsidi dapat tercapai. Tren penyaluran FLPP menunjukkan peningkatan positif seiring dengan berbagai langkah percepatan yang kami lakukan,” ujar Komisioner BP Tapera, Heru Pudyo Nugroho, di Jakarta, Senin (20/10/2025).

    Dorong Akselerasi dari Sisi Demand dan Supply

    Untuk mendorong pencapaian target, BP Tapera melakukan berbagai strategi dari sisi demand (permintaan) maupun supply (pasokan), yang dibarengi dengan penguatan tata kelola dan manajemen risiko.

    Dari sisi permintaan, BP Tapera menambah dua bank penyalur baru, yakni Bank Nobu dan Bank Artha Graha, sehingga total bank penyalur FLPP kini berjumlah 41 bank. Selain itu, BP Tapera juga memperluas kemitraan dengan berbagai mitra strategis dan pemerintah daerah.

    “Kami juga mendorong para pengembang untuk mempercepat pembangunan rumah subsidi serta menerapkan sistem rating developer berdasarkan kepatuhan dan pelayanan terhadap masyarakat berpenghasilan rendah (MBR),” tambah Heru.

    Tata Kelola dan Inovasi Digital

    Dalam menjaga kualitas dan akuntabilitas program, BP Tapera terus memperkuat tata kelola, di antaranya melalui monitoring keterhunian rumah, dengan hasil Semester I menunjukkan tingkat keterhunian mencapai 92% dari 29.966 rumah sampel. Selain itu, BP Tapera juga melakukan pemantauan kinerja bank penyalur serta menerapkan digitalisasi proses pembiayaan untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi.

    Heru menegaskan, FLPP menjadi program pembiayaan rumah subsidi paling diminati masyarakat, karena memberikan kemudahan yang nyata bagi MBR untuk memiliki rumah pertama.

    “Program FLPP diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah dengan fasilitas ringan: uang muka mulai 1%, bunga tetap 5% hingga lunas, tenor sampai 20 tahun, dan cicilan terjangkau mulai Rp1 juta-an per bulan,” jelasnya.

    Percepatan dan Sosialisasi di 13 Provinsi

    BP Tapera juga gencar melakukan roadshow dan sosialisasi di berbagai daerah. Sepanjang tahun ini, kegiatan percepatan telah dilakukan di 13 provinsi, antara lain Jawa Timur, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Banten, dan Aceh, baik secara mandiri maupun bersama kementerian dan pemerintah daerah.

    Selain itu, BP Tapera menggelar audiensi berbasis profesi dan komunitas, gathering pengembang dan bank penyalur, serta pemetaan demand untuk mengidentifikasi calon debitur potensial di berbagai wilayah.

    Dengan langkah-langkah strategis tersebut, BP Tapera yakin penyaluran KPR FLPP Sejahtera 2025 akan mencapai target, sekaligus memperkuat komitmen pemerintah dalam mewujudkan hunian layak dan terjangkau bagi seluruh rakyat Indonesia.

  • Bank Jakarta Raih Penghargaan ESG Regional Banking Excellence Awards 2025

    JAKARTA, KORIDOR.ONLINE Bank Jakarta meraih Regional Banking ESG Excellence Awards atas kontribusinya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya di DKI Jakarta dan secara nasional, melalui dukungan terhadap sektor UMKM dan pemberdayaan komunitas. Penghargaan ini diberikan dalam ajang Road to CNBC Indonesia Awards yang berlangsung di Jakarta, Kamis (16/10), dan diterima langsung oleh Direktur Keuangan & Strategi Bank Jakarta, Basaria Martha Juliana.

    Dalam sambutannya, Basaria menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini mendukung perjalanan Bank Jakarta.

    “Terima kasih kepada pemegang saham, nasabah, dan seluruh pemangku kepentingan atas kepercayaan dan dukungan yang menjadi energi bagi kami untuk terus berinovasi dan memperluas dampak positif,” ujar Basaria.

    Penghargaan ini merupakan bagian dari rangkaian penghargaan tahunan yang diselenggarakan oleh CNBC Indonesia TV, yang menilai kinerja institusi berdasarkan indikator bisnis, keuangan, dan tata kelola yang mengacu pada nilai komposit Good Corporate Governance (GCG).

    Basaria juga menegaskan pentingnya dukungan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai pemegang saham utama.

    “Penghargaan ini menjadi tonggak komitmen jangka panjang kami terhadap prinsip keberlanjutan, demi membangun institusi yang tangguh di tengah dinamika global,” tambahnya.

    Senada dengan itu, Sekretaris Perusahaan Bank Jakarta, Arie Rinaldi menekankan peran aktif Bank Jakarta dalam memperluas inklusi ekonomi, khususnya bagi UMKM. Kolaborasi lintas sektor terus dilakukan, termasuk penyediaan layanan seperti cash management, tabungan, giro, deposito, hingga pembiayaan usaha mikro.

    Salah satu inisiatif terbaru adalah kerja sama dengan Indogrosir dalam meresmikan Toko Mandiri Indogrosir (TMI) Difabel, sebuah model usaha ritel inklusif yang mendukung kemandirian ekonomi bagi penyandang disabilitas.

    “Bank Jakarta berkomitmen menjadi katalisator pembangunan sosial dengan menghadirkan ekosistem UMKM yang modern, inklusif, dan berkelanjutan, sejalan dengan prinsip ESG,” tutup Arie.

  • TMI Difabel Hadir di Bambu Apus: Simbol Kemandirian dan Inklusi Sosial

    JAKARTA, KORIDOR.ONLINE Sebuah langkah nyata menuju kemandirian dan inklusi sosial hadir di Jalan Mandor Hasan, Bambu Apus, Jakarta Timur. Di lokasi ini, baru saja diresmikan Toko Mandiri Indogrosir (TMI) bernama Difabel Shop, hasil kolaborasi Bank Jakarta dan Indogrosir. Kehadiran toko tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat usaha ritel modern, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran dan pemberdayaan bagi penyandang disabilitas, khususnya tuna grahita.

    Di balik inisiatif ini berdiri sosok inspiratif, Sukarmi Ningsih, pegawai negeri sipil Dinas Pariwisata Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Selama lebih dari dua dekade tinggal di Bambu Apus, Sukarmi dikenal aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Dari kepeduliannya lahir gagasan TMI Difabel, yang ia harap mampu menjadi wadah agar kaum difabel tidak hanya dipandang sebagai penerima bantuan, tetapi juga sebagai pelaku usaha yang mandiri, produktif, dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

    “Saya ingin menunjukkan bahwa difabel juga bisa berdiri di atas kaki sendiri. Mereka bisa berkarya, mengelola usaha, dan berkontribusi bagi masyarakat,” ujar Sukarmi penuh optimisme.

    Langkah ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang terus mendorong kebijakan ramah difabel, mulai dari akses kesempatan kerja hingga penyediaan fasilitas publik yang inklusif. Dalam TMI Difabel, peran Bank Jakarta dan Indogrosir menjadi katalis penting. Indogrosir menghadirkan model usaha ritel yang teruji, sementara Bank Jakarta menyediakan solusi perbankan sekaligus membuka jalur inklusi keuangan.

    Direktur Bisnis & Syariah Bank Jakarta, Dipo Nugroho, menegaskan komitmen perusahaan dalam memperluas akses keuangan inklusif. “Bank Jakarta percaya pembangunan ekonomi harus merangkul semua pihak. Dukungan kami terhadap TMI Difabel adalah bagian dari strategi keberlanjutan untuk membangun ekosistem UMKM inklusif dan berkeadilan,” ungkapnya.

    Lebih jauh, Difabel Shop juga berfungsi sebagai Agen JakOne Abank. Melalui layanan ini, masyarakat sekitar dapat melakukan berbagai transaksi perbankan, seperti setor-tarik tunai, pembayaran tagihan, hingga top up saldo, sekaligus menambah pemasukan tambahan bagi toko.

    Sekretaris Perusahaan Bank Jakarta, Arie Rinaldi, menambahkan, “TMI Difabel adalah bukti peran nyata Bank Jakarta sebagai bank pembangunan daerah. Kami tidak hanya fokus pada layanan finansial, tetapi juga berkomitmen dalam pembangunan sosial dan pemberdayaan kelompok difabel agar bersama-sama mewujudkan Jakarta yang maju, modern, dan berkeadilan.”

    Hadirnya TMI Difabel di Bambu Apus menjadi bukti bahwa dengan sinergi dan kepedulian, kemandirian difabel bukan lagi sekadar mimpi, melainkan kenyataan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

  • Perkuat Peran Sebagai Motor Utama Pembiayaan Perumahan, BTN Dukung Penyaluran 26.000 Unit Rumah Subsidi

    JAKARTA, KORIDOR.ONLINE – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menegaskan kembali komitmennya sebagai penggerak utama program perumahan rakyat. BTN menjadi motor terbesar dalam penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi FLPP dengan menggelar akad massal 26.000 unit rumah secara serentak di seluruh Indonesia.

    Peresmian akad massal tersebut dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di Perumahan Pesona Kahuripan 10, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (29/9). Acara ini dihadiri jajaran menteri Kabinet Merah Putih, termasuk Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait, Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho, CEO BPI Danantara Rosan P. Roeslani, dan Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu.

    Akad massal terbesar dalam sejarah FLPP ini melibatkan 41 bank penyalur, dengan BTN sebagai mitra utama yang menguasai 80% pangsa pasar KPR Subsidi nasional. Sebanyak 200 debitur hadir langsung di Cileungsi, sementara 25.800 lainnya mengikuti akad serentak di 100 titik pada 33 provinsi secara hybrid.

    Mesin KPR Subsidi Terbesar

    Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menyatakan BTN mendapat mandat menyalurkan 220.000 unit FLPP dari total 350.000 unit kuota nasional tahun ini.

    “Kalau dibagi rata, setiap hari BTN bisa mengakadkan 1.000 rumah. Inilah bukti BTN menjadi mesin terbesar di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan hunian rakyat,” ujar Nixon.

    Ia menambahkan, BTN konsisten melayani segmen MBR dari berbagai profesi, terutama pekerja sektor informal yang kini porsinya sudah mencapai 10% dari total nasabah KPR Subsidi BTN. Dari 26.000 penerima manfaat akad massal, terdapat 17 profesi berbeda, mulai dari petani, pedagang, buruh, tukang becak, ojek, perawat, bidan, guru, hingga anggota TNI/Polri.

    Perumahan Motor Ekonomi Nasional

    Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menegaskan sektor perumahan memiliki efek berganda besar bagi pertumbuhan ekonomi.

    “Perumahan selalu menjadi motor pembangunan ekonomi. Karena itu kita tetapkan target tinggi: 3 juta rumah. Sebagai pemimpin transformatif, kita harus berani bercita-cita besar dan bekerja nyata untuk rakyat,” kata Presiden.

    Menteri PKP, Maruarar Sirait, menyebut akad massal ini menjadi bukti hadirnya negara untuk mengurangi backlog perumahan yang masih mencapai 9,9 juta unit. Ia mengapresiasi BTN sebagai bank penyalur terbesar yang konsisten mendukung program subsidi perumahan.

    “Baru satu tahun Presiden Prabowo menjabat, kuota FLPP langsung naik dari rata-rata 220.000 unit menjadi 350.000 unit. Ini belum pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya.

    FLPP Terus Jadi Program Favorit

    Komisioner BP Tapera, Heru Pudyo Nugroho, menegaskan bahwa FLPP adalah program paling diminati masyarakat. Ia mengapresiasi kolaborasi pemerintah, BTN, dan bank-bank penyalur yang memungkinkan percepatan penyaluran rumah subsidi.

    “Dengan tambahan kuota 350.000 unit tahun ini, kami optimistis semakin banyak MBR yang bisa memiliki rumah layak,” kata Heru.

    Hingga September 2025, realisasi FLPP mencapai 183.058 unit senilai Rp22,71 triliun, naik 20,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.