Finansial

Lewat Home Power, BTN Tawarkan Rumah Siap Huni Tanpa Harus Berutang ke Pinjol

BTN memberikan pembiayaan tambahan maksimal 30% dari limit awal kredit untuk pengadaan furnitur dan perlengkapan rumah tangga.

JAKARTA, KORIDOR.ONLINE – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menyiapkan sejumlah terobosan untuk memperluas akses pembiayaan perumahan guna menjawab kebutuhan masyarakat terhadap hunian yang layak dan siap ditempati. Inisiatif tersebut diantaranya adalah program pembiayaan Home Power, KPR Recycle, kolaborasi penyediaan rumah bagi ekosistem Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), serta pengembangan rumah susun (rusun) Manggarai bersama KAI Property.

Hal tersebut dijelaskan oleh Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, kepada awak media di Kantor Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Jakarta, Senin (2/11/2026).

Nixon menjelaskan, salah satu program yang tengah dikembangkan BTN adalah Home Power, yakni fasilitas pembiayaan tambahan untuk membantu masyarakat melengkapi kebutuhan rumah setelah pembangunan selesai. Melalui skema ini, BTN memberikan pembiayaan tambahan maksimal 30% dari limit awal kredit untuk pengadaan furnitur dan perlengkapan rumah tangga.

“Melalui program Home Power, pengembang membangun rumah terlebih dahulu. Setelah rumah selesai, BTN memberikan pembiayaan tambahan maksimal 30% dari limit awal untuk melengkapi seluruh kebutuhan rumah tersebut,” ujar Nixon.

Pembiayaan tersebut dapat digunakan untuk membeli tempat tidur, kursi, meja, berbagai furnitur, pompa air, serta perlengkapan dasar lainnya. Dengan demikian, rumah yang dibeli masyarakat tidak hanya selesai dibangun, tetapi juga berada dalam kondisi siap huni.

Menurut Nixon, program ini menjawab persoalan yang selama ini kerap dihadapi konsumen rumah. Tidak sedikit pembeli yang harus menunda menempati rumah hingga berbulan-bulan, bahkan sekitar satu tahun, karena masih harus mengumpulkan dana untuk membeli furnitur dan perlengkapan rumah tangga.

BTN saat ini tengah menjalankan proyek percontohan Home Power di salah satu perumahan di Bogor. Perseroan menargetkan program tersebut dapat diperluas hingga 40 perumahan melalui kerja sama dengan pengembang yang dinilai memiliki kapasitas dan memenuhi kriteria.

Nixon menambahkan, BTN juga telah membahas hal tersebut bersama Menteri PKP mengenai kemungkinan penyesuaian batas maksimal penghasilan agar masyarakat memiliki ruang lebih leluasa dalam mengangsur kebutuhan furnitur dan perlengkapan rumah dengan suku bunga terjangkau, mengikuti skema bunga pembiayaan rumah.

| Baca Juga:   IPEX 2023 Hadirkan 162 Proyek

Skema tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan konsumen terhadap pinjaman berbunga tinggi, termasuk pinjaman online (pinjol), yang berpotensi mengganggu kemampuan membayar angsuran KPR.

“Dengan Home Power, rumah yang dibeli masyarakat sudah benar-benar siap huni karena perlengkapan dasarnya tersedia. Kami berharap program ini juga membantu meningkatkan realisasi akad pada November dan Desember,” katanya.

KPR Recycle, Hidupkan Kembali 30.000 Rumah Bermasalah

Selain menghadirkan pembiayaan tambahan untuk rumah siap huni, BTN juga menyiapkan program KPR Recycle untuk mengoptimalkan kembali rumah-rumah yang sebelumnya menjadi aset bermasalah akibat kredit macet.

Nixon mengungkapkan, saat ini terdapat sekitar 80.000 unit rumah eks debitur terdampak pandemi COVID-19 yang mengalami kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL). Sebagian besar rumah tersebut telah dikembalikan kepada BTN.

Dari jumlah tersebut, sekitar 30.000 unit dinilai sudah siap untuk dipasarkan kembali. BTN bahkan telah melihat adanya calon investor maupun pembeli yang berpotensi memanfaatkan fasilitas KPR untuk memperoleh rumah-rumah tersebut.

“Sekitar 30.000 unit rumah sudah siap untuk dipasarkan kembali. Calon investor maupun pembelinya juga sudah tersedia dan dapat menggunakan fasilitas KPR kembali,” kata Nixon.

Namun, sebelum ditawarkan kepada masyarakat, rumah-rumah tersebut harus terlebih dahulu diperbaiki agar kembali dalam kondisi layak huni seperti rumah baru. Perbaikan antara lain mencakup pengecatan ulang, perbaikan atap, dinding, dan bagian bangunan lainnya.

Melalui skema ini, BTN ingin memastikan rumah-rumah yang sebelumnya tidak lagi dihuni dapat kembali dimanfaatkan oleh masyarakat. Dengan demikian, aset perumahan yang sempat menjadi kredit bermasalah tidak terus terbengkalai, tetapi dapat kembali masuk ke pasar melalui pembiayaan KPR.

Nixon mengatakan, program KPR Recycle saat ini masih dalam tahap pembahasan dan penyelesaian sejumlah hal teknis. BTN berharap skema tersebut segera dapat direalisasikan untuk mendorong permintaan perumahan sekaligus mengoptimalkan aset yang dimiliki perseroan.

Bangun Ekosistem Perumahan Muhammadiyah dan NU

Selain inovasi pembiayaan, BTN juga memperluas penetrasi pasar melalui kerja sama dengan organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia, yakni PP Muhammadiyah dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

| Baca Juga:   Mendayung Pembiayaan Perumahan di Tengah Gelombang yang Masih Tinggi*

Nixon mengatakan, kerja sama tersebut diarahkan untuk menyediakan akses pembiayaan perumahan bagi pegawai, anggota, dan masyarakat yang berada dalam ekosistem kedua organisasi. Pendekatan ini diharapkan dapat mempertemukan kebutuhan calon pembeli dengan pengembang serta lembaga pembiayaan dalam satu ekosistem yang lebih terintegrasi.

Untuk Muhammadiyah, program tersebut diberi nama Rumahmu, singkatan dari Rumah Muhammadiyah. Program ini direncanakan diluncurkan pada 12 November 2026 di Kota Palu, bertepatan dengan pelaksanaan Tanwir Muhammadiyah.

Saat ini, menurut Nixon, sekitar 2.000 guru di lingkungan Muhammadiyah telah mengikuti program terkait perumahan. Potensi pesertanya masih dapat berkembang karena Muhammadiyah memiliki puluhan ribu guru serta jaringan sekolah, rumah sakit, yayasan, perguruan tinggi, dan berbagai institusi lainnya.

Program Rumahmu mendapat dukungan PP Muhammadiyah, termasuk Ketua Umum Prof. Haedar Nashir. BTN berharap fasilitas pembiayaan tersebut dapat menjangkau lebih banyak pegawai dan warga yang berada dalam jaringan organisasi.

Sementara itu, dengan PBNU, BTN tengah menyiapkan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dan perjanjian kerja sama (PKS). Program serupa akan diarahkan bagi pegawai dan warga yang terafiliasi dengan NU, termasuk mereka yang bekerja di sekolah, rumah sakit, universitas, dan lembaga lainnya. Potensi calon pesertanya diperkirakan dapat mencapai jutaan orang.

Nixon mengungkapkan, PBNU juga mengusulkan agar pengembang yang terafiliasi dengan NU dilibatkan dalam pelaksanaan program. BTN menyambut baik usulan tersebut dan membuka peluang bagi pengembang dari jaringan organisasi, termasuk Ikatan Pengembang Nahdlatul Ulama (IPNU) sebagaimana disebutkan dalam paparan.

“Melalui pendekatan ini, kami ingin menjangkau langsung sisi permintaan atau demand. Calon pembeli berasal dari komunitas yang jelas dan menjadi bagian dari ekosistem organisasi, sehingga program perumahan bisa berjalan lebih terarah,” jelasnya.

Kolaborasi tersebut juga diharapkan memberikan manfaat bagi pengembang dan perbankan. Selain memperluas pasar, keterlibatan organisasi dapat membantu proses administrasi, pendataan calon debitur, hingga penagihan angsuran atau collection.

Peminat Rusun Manggarai Hampir 1.500 Orang

| Baca Juga:   Dongkrak Pasar Perumahan, SMF Dan BTN Kolaborasi

Pada kesempatan tersebut Nixon juga menjelaskan perkembangan kerja sama proyek Rumah Susun (Rusun) Manggarai antara BTN dengan PT KAI Property. Nixon menyebutkan, jumlah masyarakat yang telah mendaftar melalui BTN untuk mendapatkan hunian di proyek tersebut hampir mencapai 1.500 orang. Tingginya minat itu menunjukkan kebutuhan terhadap hunian di tengah kota yang memiliki akses dekat dengan sarana transportasi.

Namun, pengembangan proyek tersebut masih menunggu penyelesaian proses perizinan yang saat ini ditangani KAI Property. BTN telah berkomunikasi dengan pihak KAI pada Jumat pekan sebelumnya untuk mendorong percepatan proses tersebut.

“Kami berharap dalam waktu dekat perizinannya segera terbit. Kalau memungkinkan, tahun ini sudah ada unit yang bisa ditingkatkan progresnya bersama calon pembeli, karena para peminat sudah menunggu dan antusiasmenya sangat baik,” ujar Nixon.

Menurutnya, kebutuhan masyarakat terhadap hunian yang terintegrasi dengan transportasi menjadi peluang penting dalam pengembangan perumahan perkotaan. Karena itu, BTN berharap proses perizinan dapat segera diselesaikan agar proyek tersebut bisa bergerak ke tahap berikutnya.

Menteri PKP Apresiasi Terobosan BTN

Menteri PKP Maruarar Sirait mengapresiasi berbagai inisiatif yang disampaikan BTN, mulai dari program Home Power, KPR Recycle, kolaborasi dengan Muhammadiyah dan NU, hingga pengembangan rusun Manggarai.

Menurut Maruarar, langkah-langkah tersebut merupakan terobosan yang progresif dalam mencari solusi untuk mempercepat pelaksanaan program perumahan dan memperluas akses masyarakat terhadap hunian.

“Saya pikir itu merupakan inisiatif yang sangat baik. Terima kasih kepada Pak Direktur Utama BTN, termasuk terkait program di Manggarai. Ini merupakan hal-hal baru yang sebelumnya mungkin belum pernah dilakukan. Menurut saya, langkah-langkah tersebut cukup progresif dalam mencari solusi agar pelaksanaan program perumahan bisa berjalan lebih baik,” kata Maruarar.

Melalui berbagai inisiatif tersebut, BTN berupaya memperkuat perannya dalam ekosistem perumahan nasional, tidak hanya melalui penyaluran kredit pemilikan rumah, tetapi juga dengan menghadirkan skema pembiayaan yang menjawab kebutuhan konsumen, memperluas jaringan calon pembeli, serta mengoptimalkan pemanfaatan hunian di kawasan perkotaan.

Erfendi

Penulis dan penikmat informasi terkait industri properti dan turunannya dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Email: exa_lin@yahoo.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button