Headline

Nostalgia Dua Aktivis: Persahabatan Fahri Hamzah dan Mariano Berlanjut di Jalan Perjuangan Perumahan Rakyat

Waktu dan jabatan memang telah membawa mereka ke posisi berbeda, tetapi perhatian terhadap kesejahteraan rakyat tetap menjadi titik temu.

JAKARTA, KORIDOR.ONLINE – Ada kalanya sebuah pertemuan penting tidak langsung dimulai dengan agenda resmi, paparan program, atau pembicaraan politik. Bagi Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Fahri Hamzah dan Wakil Perdana Menteri Timor Leste Mariano Sabino Lopes, pertemuan mereka justru diawali dengan nostalgia panjang tentang masa lalu, persahabatan, dan perjalanan perjuangan sebagai aktivis.

Senin (26/10/2026), keduanya bertemu di kantor Wakil Menteri PKP di Jakarta. Pertemuan yang semula mengenang jalan perjuangan masa lalu, kemudian menjadi obrolan panjang yang membawa mereka kembali ke masa ketika idealisme dan keberpihakan kepada rakyat menjadi benang merah perjuangan.

Mariano bukan sekadar pejabat tinggi dari negara tetangga. Politikus yang juga merupakan anggota Partai Demokrat itu memiliki perjalanan panjang dalam dunia aktivisme dan politik Timor Leste. Ia pernah menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, pada 1996, ketika Indonesia tengah memasuki periode menjelang perubahan besar politik pada akhir Orde Baru.

Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Fahri Hamzah. Foto: VoI/Istw

Fahri menyebut pertemuan tersebut sebagai perjumpaan dua sahabat lama yang sama-sama pernah berjuang melalui jalur politik. Waktu dan jabatan memang telah membawa mereka ke posisi berbeda, tetapi perhatian terhadap kesejahteraan rakyat tetap menjadi titik temu.

“Ini nostalgia dua aktivis, dua sahabat yang sama-sama berjuang melalui jalur politik,” ujar Fahri saat menceritakan kembali pertemuan tersebut.

Obrolan mereka pun berlangsung lebih lama dari pertemuan formal pada umumnya. Pengalaman masa lalu, perjalanan politik, hingga tantangan yang kini dihadapi masing-masing negara menjadi bagian dari percakapan. Bahkan, pembicaraan berlanjut hingga waktu makan siang lewat.

Namun, nostalgia bukan satu-satunya alasan pertemuan itu terasa penting. Kini, Fahri dan Mariano sama-sama berada di pemerintahan dengan perhatian pada isu perumahan dan pembangunan. Persahabatan lama itu menemukan ruang baru untuk bertukar gagasan, kali ini dengan kemungkinan kerja sama yang lebih konkret.

| Baca Juga:   Rakernas HIMPERRA: Evaluasi SLIK untuk Akses Rumah Lebih Inklusif

“Pada waktunya nanti saya akan ke Timor Leste. Mereka meminta saya menjadi pembicara dan menjelaskan  pemikiran Soemitro Djojohadikusumo soal mazhab ekonomi Soemitro yang berbasis pada Keadilan Sosial dan Ekonomi Kerakyatan, termasuk masalah perumahan,” ungkap Fahri.

Dari Aktivis Menjadi Pengambil Kebijakan

Bagi Mariano, pertemuan dengan Fahri mengingatkannya pada masa ketika keduanya memiliki perhatian yang sama terhadap persoalan rakyat. Ia menilai, perpindahan dari dunia aktivisme ke pemerintahan tidak semestinya menghilangkan semangat untuk memperjuangkan kesejahteraan masyarakat.

Menurut Mariano, perumahan rakyat bukan sekadar urusan menyediakan bangunan. Di dalamnya terdapat persoalan kemiskinan, keadilan sosial, kepemilikan tanah, serta martabat masyarakat.

Pandangan itu pula yang membuat pembicaraan keduanya terasa dekat, meskipun kini mereka bekerja dalam struktur pemerintahan yang berbeda negara. Bagi mereka, keberpihakan kepada rakyat tidak berhenti ketika seseorang memperoleh jabatan, melainkan justru harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang memberikan manfaat nyata.

“Ketika kita berpisah dan sama-sama berada di negara masing-masing, fokus kita untuk kesejahteraan rakyat dan keberpihakan kepada rakyat ini lintas negara,” kata Mariano.

Ia juga mengapresiasi perhatian Fahri yang sangat dalam terhadap perumahan rakyat. Menurutnya, rumah yang layak berkaitan erat dengan upaya mengatasi kemiskinan, memperkuat keadilan sosial, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Bagi dua mantan aktivis itu, perumahan menjadi salah satu bidang yang mempertemukan idealisme masa lalu dengan tanggung jawab mereka hari ini.

Timor Leste Masih Membangun Fondasi Perumahan

Di balik suasana akrab pertemuan tersebut, terdapat persoalan mendasar yang menjadi perhatian bersama: bagaimana membangun sistem perumahan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.

Fahri melihat Timor Leste masih memiliki kesempatan untuk menata kebijakan perumahannya sejak tahap awal. Menurut penjelasannya, negara tersebut masih perlu memperkuat data perumahan dan kelembagaan teknis agar persoalan serta kebutuhan hunian dapat diidentifikasi dengan lebih jelas.

| Baca Juga:   Mendes PDTT Siap Bangun 752 Homestay di Mandalika

Kondisi itu, menurut Fahri, sekaligus membuka peluang untuk menyiapkan kebijakan sebelum urbanisasi berkembang semakin pesat. Ia membandingkan kondisi tersebut dengan Indonesia yang telah mengalami urbanisasi secara lebih luas, sehingga menghadapi tantangan berupa pertumbuhan kota dan kebutuhan perumahan yang semakin kompleks.

Dalam wawancara setelah pertemuan, Fahri menjelaskan bahwa langkah awal yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan data. Setelah kebutuhan dan persoalan perumahan terpetakan, kebijakan serta skema penyelesaiannya dapat disusun dengan lebih terarah.

Ia juga menekankan pentingnya pengendalian pemanfaatan tanah, disiplin tata ruang, dan sistem pembiayaan perumahan jangka panjang. Menurutnya, rumah tidak dapat diperlakukan seperti barang konsumsi biasa yang pembiayaannya hanya mengandalkan tenor pendek.

Pembiayaan perumahan, kata Fahri, perlu dirancang untuk jangka panjang dan terhubung dengan sistem jaminan sosial. Pendekatan tersebut penting agar masyarakat memiliki kesempatan lebih besar untuk memperoleh hunian tanpa terbebani skema pembiayaan yang tidak sesuai dengan kemampuan mereka.

Rumah Bukan Sekadar Bangunan

Salah satu gagasan yang dibicarakan Fahri dan Mariano adalah pentingnya melihat rumah sebagai bagian dari ekosistem permukiman. Hunian yang layak harus terhubung dengan sanitasi, lingkungan sehat, infrastruktur, serta fasilitas pendukung kehidupan masyarakat.

Fahri juga berbagi pemikiran mengenai integrasi kawasan dan pengalaman Indonesia dalam menghadapi persoalan perkotaan. Pembicaraan turut menyentuh pembangunan ibu kota baru serta pengalaman sejumlah negara dalam menata kawasan perkotaan.

Gagasan itu menarik bagi Mariano. Fahri mengungkapkan bahwa koleganya tersebut berencana mengumpulkan anggota kabinet dan para pakar di Dili, sekaligus menjajaki kemungkinan mengundang dirinya untuk berbagi pandangan mengenai pembangunan perumahan dan integrasi kawasan.

Rencana tersebut masih perlu ditindaklanjuti, tetapi membuka peluang bagi pertukaran pengalaman yang lebih terarah antara Indonesia dan Timor Leste.

| Baca Juga:   Didukung Tol, Potensi Pasar Properti Sukabumi Makin Dilirik

Persahabatan  Membuka Jalan Kerja Sama

Fahri memandang kedekatan personalnya dengan Mariano sebagai salah satu modal untuk membangun komunikasi yang lebih intensif. Ia juga merasa memiliki kedekatan geografis dan emosional dengan kawasan tersebut karena berasal dari Sumbawa, wilayah di bagian timur Indonesia.

Baginya, hubungan Indonesia dan Timor Leste tidak hanya dibangun melalui jalur diplomasi formal. Pertemanan, pertukaran gagasan, dan kesamaan perhatian terhadap persoalan masyarakat dapat menjadi pintu masuk bagi kerja sama yang lebih luas.

Keduanya berharap pembicaraan yang berlangsung dalam suasana santai itu dapat berlanjut menjadi agenda yang lebih konkret, mulai dari berbagi pengalaman kebijakan perumahan hingga memperkuat pembangunan infrastruktur sosial.

Fahri juga menyinggung hubungan persahabatan Presiden Prabowo Subianto dengan Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmão sebagai salah satu konteks yang dapat mendukung penguatan hubungan kedua negara.

Pada akhirnya, pertemuan Fahri dan Mariano memperlihatkan bahwa perjalanan dari aktivisme menuju pemerintahan tidak harus memutus hubungan dengan cita-cita awal. Justru, ketika kesempatan untuk menentukan kebijakan terbuka, persahabatan lama dapat menjadi ruang untuk menghidupkan kembali gagasan tentang keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat.

Dua sahabat itu kini berada di meja pemerintahan, tetapi percakapan mereka tetap berangkat dari pertanyaan yang sama seperti dahulu: bagaimana memastikan pembangunan benar-benar menjangkau masyarakat dan memberi mereka kehidupan yang lebih baik?

Erfendi

Penulis dan penikmat informasi terkait industri properti dan turunannya dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Email: exa_lin@yahoo.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button