Headline

Kunci Rumah dari Gerobak Gorengan

Peran BTN merajut kepentingan pemerintah, pengembang, dan masyarakat menjadikan kredit perumahan bukan sekadar angka pembiayaan, melainkan jembatan menuju hunian berkualitas yang lebih inklusif.

JAKARTA, KORIDOR.ONLINEDi pagi yang masih basah oleh embun di Cileungsi, Kabupaten Bogor, deretan rumah tapak sederhana di Perumahan Pesona Kahuripan mulai hidup. Pintu-pintu terbuka, mesin motor dipanaskan, dan anak-anak berseragam berlarian kecil menuju sekolah. Di salah satu teras rumah tipe 30/60 itu, Siti (38) tengah sibuk. Pedagang gorengan keliling ini menyiapkan dagangannya dengan raut wajah yang berbeda dari beberapa tahun lalu.

Dulu, hidup Siti adalah soal berpindah dari satu kontrakan sempit ke kontrakan lain.

“Dulu pindah-pindah, sekarang sudah punya alamat tetap,” ujarnya pelan sembari menatap kunci rumah di genggamannya.

Bagi Siti, lembaran uang seribuan yang ia kumpulkan setiap hari kini telah menjelma menjadi aset nyata. Ia adalah potret dari jutaan masyarakat sektor informal—golongan yang selama ini berada di “zona buta” perbankan—yang akhirnya berhasil menembus dinding mustahil bernama kepemilikan rumah.

Runtuhnya hambatan itu bukan terjadi secara kebetulan. Ada orkestrasi besar yang digawangi oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN). Di tengah kepungan angka backlog perumahan yang mencapai angka 12,7 juta unit, BTN hadir menjadi jembatan yang menyatukan mandat pemerintah, nyali pengembang, dan harapan keluarga berpenghasilan rendah (MBR).

Jembatan Emas Bagi Rakyat

Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu, menegaskan bahwa DNA bank yang dipimpinnya adalah housing bank. Baginya, peran BTN telah melampaui sekadar penyalur kredit.
“Kami tidak hanya menyalurkan angka, tetapi membangun ekosistem,” ujar Nixon pada acara peluncuran dan sosialisasi hunian vertikal Kampung Bandan di Jakarta,15/1/26.
Direktur Utama Bank BTN Nixon LP Napitupulu
Ekosistem yang dimaksud Nixon adalah sebuah jaringan yang saling mengunci: BTN menyiapkan pembiayaan konstruksi bagi pengembang, menyalurkan KPR bagi rakyat, dan memastikan prosesnya efisien lewat digitalisasi.

Dalam konteks MBR, tantangan terbesar adalah akses. Banyak calon debitur bekerja di sektor informal—tanpa slip gaji, tanpa catatan keuangan formal.

“Kami melakukan pendekatan yang lebih adaptif. Ada asesmen berbasis arus kas, verifikasi lapangan, hingga edukasi literasi keuangan. Tujuannya agar inklusi tidak berhenti pada slogan,” ujar Nixon.

BTN, lanjutnya, memposisikan diri sebagai enabler. Pemerintah merancang kebijakan dan subsidi, pengembang menyediakan stok rumah, sementara BTN memastikan pembiayaan mengalir dan tepat sasaran.

“Kami menyadari bahwa masalah perumahan bukan hanya soal angka, tapi soal martabat manusia. Fokus BTN adalah memastikan setiap lapisan masyarakat, termasuk mereka yang bekerja di sektor informal, memiliki akses yang sama terhadap hunian yang layak dan berkualitas,” ujar Nixon.

| Baca Juga:   Keren.... Ini Rumah Inovatif New Normal Ciputra Group

Di bawah kepemimpinan Nixon, BTN terus bertransformasi menjadi Modern Mortgage Bank yang lebih inklusif, menyederhanakan proses verifikasi bagi pekerja informal agar mereka bisa meyakinkan perbankan atas kemampuan bayar mereka.

Negara, Target, dan Tugas Besar Perumahan

 Visi inklusivitas ini mendapatkan angin segar dari komitmen pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka lewat program 3 juta rumah. Pemerintahan menempatkan sektor perumahan sebagai agenda strategis. Rumah bukan semata kebutuhan papan, tetapi fondasi produktivitas, kesehatan, dan mobilitas sosial. Untuk itu, dibentuk Satuan Tugas Perumahan yang dipimpin oleh Hashim Djojohadikusumo.

Hashim Djojohadikusumo, Ketua Satgas Perumahan, menekankan bahwa perumahan adalah motor penggerak ekonomi nasional yang luar biasa. Baginya, kolaborasi dengan BTN sebagai bank spesialis perumahan adalah kunci keberhasilan program ini.

“Negara harus hadir. Kita ingin rakyat tidak hanya punya tempat bernaung, tapi rumah yang sehat dan meningkatkan produktivitas mereka,” tegas Hashim pada kesempatan yang sama.

Hashim menegaskan bahwa pembangunan perumahan rakyat membutuhkan orkestrasi lintas sektor.

Hashim Djojohadikusumo, Ketua Satgas Perumahan

“Negara tidak bisa berjalan sendiri. Pengembang perlu kepastian pembiayaan, masyarakat perlu akses kredit yang terjangkau, dan bank membutuhkan dukungan kebijakan agar pembiayaan berkelanjutan. Di sinilah kolaborasi menjadi kunci,” ujarnya dalam sebuah diskusi kebijakan perumahan.

Menurutnya, skema pembiayaan subsidi seperti Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) harus terus diperkuat dan diperluas. Namun, keberhasilan program tak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, melainkan oleh kehadiran institusi yang mampu menerjemahkan kebijakan menjadi akses nyata bagi masyarakat. Di titik inilah BTN berdiri.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menegaskan bahwa ekosistem perumahan hanya bisa tumbuh kuat melalui kolaborasi. Menurutnya, keterlibatan pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengembang, perbankan, akademisi, dan swasta adalah kunci agar sektor perumahan melahirkan terobosan kreatif yang tidak hanya menyediakan rumah layak, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

“Perumahan ini lintas sektor. Ada aspek pembiayaan, pembangunan, perizinan, bahkan hukum. Semua pihak harus duduk bersama. Kalau ekosistemnya solid, maka terobosan kreatif bisa kita hadirkan,” ujar Ara, demikian biasa disapa.

Ia mengatakan, pemerintah menghadapi keterbatasan anggaran sehingga tidak mungkin seluruh kebutuhan perumahan masyarakat dipenuhi hanya dari APBN. Karena itu, kolaborasi lintas ekosistem menjadi kunci.

“Kalau hanya mengandalkan APBN, pasti tidak cukup. Tapi kalau ada gotong royong dari perbankan, swasta, pengembang, pemda, dan akademisi, hasilnya jauh lebih besar,” tegasnya.

| Baca Juga:   Asosiasi Pengembang Desak Pemerintah Atasi Kendala Sektor Perumahan

Peran Pengembang

Di sisi suplai, peran pengembang seperti Pesona Kahuripan Group menjadi sangat krusial. Angga Budi Kusuma, Direktur Utama Pesona Kahuripan Group, mengungkapkan bahwa membangun rumah subsidi bukan berarti mengorbankan kualitas. Di proyeknya yang terletak di Cileungsi, Bogor, Angga membuktikan bahwa hunian inklusif bisa hadir dengan fasilitas yang mumpuni, lingkungan yang asri, dan aksesibilitas yang baik.

Menurut Angga, kolaborasi dengan BTN memungkinkan proyek berjalan lebih terukur. Sejak tahap perencanaan, pihak bank sudah terlibat dalam memetakan profil calon pembeli, kesiapan dokumen, hingga jadwal akad. Proses ini meminimalkan risiko pembatalan dan mempercepat serah terima.

“Ketika akad massal dilakukan, itu bukan sekadar seremoni. Itu bukti bahwa ekosistem bekerja,” katanya.

Pesona Kahuripan kini menjadi rumah bagi ribuan keluarga MBR—buruh pabrik, pedagang, pengemudi ojek daring, hingga pekerja lepas. Banyak dari mereka sebelumnya terjebak dalam siklus kontrak tahunan tanpa kepastian.

“Kami tidak bisa berjalan sendiri. Kehadiran BTN memberikan kepastian pembiayaan bagi konsumen kami, sementara dukungan pemerintah memberikan kepastian regulasi. Kolaborasi inilah yang membuat kami tetap semangat membangun ribuan unit meskipun tantangan lahan semakin sulit,” ungkap Angga.

Bagi Angga, melihat masyarakat seperti Siti yang menerima kunci rumah adalah kepuasan yang melampaui angka profit. Ini adalah tentang membangun komunitas dan peradaban baru.

Jejak BTN Melayani Negeri (2024-2025)

Keberhasilan ekosistem ini tercermin dari data yang menunjukkan dampak turunan (multiplier effect) dari industri perumahan. Setidaknya ada 185 sub-sektor industri lain yang ikut bergerak—mulai dari semen, besi, cat, hingga industri furnitur dan warung-warung di sekitar lokasi perumahan.

Tabel: Dampak Kolaborasi Ekosistem Perumahan

Pilar Utama Peran Strategis Hasil Nyata
Pemerintah  Kebijakan & Subsidi Kepastian Kuota & Regulasi
BTN Pembiayaan & Integrator Akses KPR Inklusif (Formal & Informal)
Pengembang Eksekusi & Kualitas Ketersediaan Stok Rumah Layak
Masyarakat Penerima Manfaat Peningkatan Kesejahteraan & Aset

Keberhasilan kolaborasi ini bukan sekadar narasi di atas kertas, melainkan tercermin dalam angka-angka yang solid. Berdasarkan Laporan Keuangan Bank BTN, sepanjang tahun 2024, BTN berhasil menyalurkan KPR Subsidi senilai Rp173,84 triliun, tumbuh 7,5% (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, KPR Non-Subsidi juga menunjukkan taringnya dengan pertumbuhan 10,2% (yoy) menjadi Rp105,95 triliun.

Memasuki tahun 2025, agresivitas BTN dalam menjangkau masyarakat semakin nyata: BTN mendominasi Pasar. Hingga akhir tahun 2025, BTN menguasai 46,7% pangsa pasar penyaluran KPR Sejahtera FLPP secara nasional. Secara total unit, BTN tercatat telah menyalurkan KPR FLPP sebanyak 182.952 unit sepanjang tahun 2025. Hingga Desember 2025, total penyaluran kredit BTN menembus Rp400,6 triliun, tumbuh signifikan 11,9% (yoy), di mana sektor perumahan mendominasi hingga 82% dari total portofolio tersebut.

| Baca Juga:   Pengembang Lirik Potensi Pembiayaan Perumahan Berbasis Syariah

Data ini menegaskan bahwa setiap rupiah yang disalurkan bukan sekadar transaksi perbankan, melainkan investasi sosial untuk mengurangi backlog perumahan yang masih menjadi tantangan besar bagi pemerintahan Prabowo-Gibran. Dengan target 3 juta rumah di depan mata, statistik ini menjadi fondasi optimisme bahwa sektor informal pun kini memiliki “paspor” untuk masuk ke gerbang kesejahteraan melalui kepemilikan hunian.

Rumah untuk Semua

Rumah-rumah itu berdiri bukan hanya karena bata dan semen, tetapi karena kolaborasi. Di balik setiap kunci yang diserahkan, ada kebijakan yang dirumuskan, kredit yang disalurkan, dan keberanian keluarga kecil untuk mengambil langkah besar.

Dalam lanskap pembangunan nasional, peran BTN menjadi lebih dari sekadar lembaga keuangan. Ia adalah penghubung—antara visi negara dan realitas warga, antara rencana dan harapan, antara tanah kosong dan masa depan.

Dan di setiap rumah sederhana yang berdiri, terselip satu pesan: ketika ekosistem bekerja, akses menjadi mungkin, dan hunian berkualitas yang inklusif bukan lagi mimpi, melainkan alamat yang nyata.

Kisah Siti di Perumahan Pesona Kahuripan hanyalah satu dari ribuan narasi sukses. Kini, dengan sinergi antara visi besar pemerintah, ketangkasan BTN dalam pembiayaan, dan dedikasi pengembang seperti Pesona Kahuripan, mimpi “Rumah untuk Semua” bukan lagi sekadar slogan politik.

Ini adalah kerja nyata melayani negeri. Sebuah orkestrasi untuk memastikan bahwa setiap warga negara, apa pun pekerjaannya, memiliki tempat untuk pulang dan merajut masa depan yang lebih baik di bawah atap miliknya sendiri.

Di sore hari, Siti menutup lapak gorengannya dan kembali ke rumahnya di Pesona Kahuripan. Matahari tenggelam di balik atap-atap seragam yang kini berwarna keemasan.

Di jalan-jalan komplek perumahan itu, suara anak-anak riuh bermain, terus menggema. Dan di setiap rumah sederhana yang berdiri, terselip satu pesan: ketika ekosistem bekerja, akses menjadi mungkin, dan hunian berkualitas yang inklusif bukan lagi mimpi, melainkan alamat yang nyata.

 

 

 

Erfendi

Penulis dan penikmat informasi terkait industri properti dan turunannya dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Email: exa_lin@yahoo.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button