BTN Housingpreneur, Panggung Inovasi yang Menggetarkan Industri Properti
BTN Housingpreneur tak lagi sekadar lomba. Ia menjelma menjadi simpul pertemuan antara inovasi, permodalan, dan pasar

JAKARTA, KORIDOR.ONLINE—Di tengah hiruk-pikuk BTN Expo 2026 di Jakarta International Convention Center, sebuah panggung megah menjadi saksi lahirnya para “penjaga” masa depan hunian Indonesia. Bukan sekadar kompetisi, BTN Housingpreneur 2025 yang diinisiasi oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk telah menjelma menjadi kawah candradimuka bagi 1.170 inovator muda untuk mendobrak batasan ekosistem perumahan nasional.
“Sektor perumahan butuh pengungkit pertumbuhan melalui ide-ide segar,” ujar Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, saat menutup rangkaian acara pada 31 Januari 2026.
Pesannya jelas: rumah masa depan bukan lagi sekadar dinding dan atap, melainkan sebuah harmoni antara teknologi, keamanan, dan keberlanjutan.
GeofloodAI, Pemantau Perumahan Antibanjir
Salah satu pemenang dari kalangan mahasiswa, yang mencuri perhatian pengunjung pameran adalah Ali Sulas Hidayat. Mahasiswa pascasarjana asal Palembang itu datang bersama timnya membawa gagasan yang terdengar sederhana, namun menyentuh persoalan laten di sektor properti—banjir.

Lewat kategori Housing Related Innovation dalam ajang BTN Housingpreneur, Ali memperkenalkan GeofloodAI, sebuah aplikasi berbasis machine learning yang dirancang untuk membaca risiko banjir di suatu wilayah.
Tujuannya bukan sekadar memetakan genangan, tetapi membantu orang mengambil keputusan—membangun atau membeli rumah—dengan lebih rasional dan aman.
“Inovasi ini menyasar masalah yang sering terabaikan di sektor properti, terutama bagi konsumen ritel dan pengembang,” ujar Ali.
Ia mencontohkan pengalaman umum calon pembeli rumah yang kerap bertanya kepada warga sekitar atau mencari berita lama untuk mengetahui riwayat banjir suatu lokasi. Informasi yang diperoleh sering kali parsial dan belum tentu akurat.
GeofloodAI bekerja dengan pendekatan analitik berbasis pemodelan matematis dan rujukan jurnal ilmiah. Sistemnya menggabungkan data hidrologi, data geospasial, serta input pengguna yang dihimpun melalui metode crowdsourcing. Seluruh data tersebut kemudian diolah dengan algoritma machine learning untuk menghasilkan skor risiko banjir pada lokasi yang dipilih.
Pengguna cukup menandai titik lokasi pada peta digital. Dalam hitungan detik, aplikasi menampilkan penilaian risiko lengkap dengan indikator pendukung. Bagi calon pembeli rumah, informasi itu menjadi semacam alarm dini. Bagi pengembang, ia bisa menjadi bahan pertimbangan sebelum memulai proyek.
Proteka, Benteng Pertahanan dari Bencana
Tak hanya menjadi panggung bagi mahasiswa, ajang BTN Housingpreneur 2025 juga membuka ruang bagi inovator dari kalangan profesional dan pelaku usaha yang bergerak di sektor penunjang perumahan.
Dari spektrum inilah muncul Zamzam Multazam, representasi dunia usaha yang membawa solusi mitigasi bencana ke tengah industri properti nasional.

Melalui perusahaannya, PT Inovasi Tangguh Bencana, Zamzam memperkenalkan produk coating bernama Proteka—sebuah material pelapis yang diklaim mampu meningkatkan ketahanan bangunan terhadap guncangan gempa.
Berbeda dari teknologi perkuatan konvensional yang kerap rumit dan mahal, Proteka dirancang menyerupai cat dinding biasa sehingga mudah diaplikasikan.
“Kami mencoba menghadirkan produk yang praktis. Bentuknya coating seperti cat pada umumnya, tetapi ketika diaplikasikan ke dinding, ia bisa meningkatkan kapasitas struktur dalam meredam guncangan,” ujar Zamzam usai menerima trofi Juara 1.
Bagi Zamzam, inovasi ini bukan sekadar produk, melainkan respons atas realitas geografis Indonesia yang berada di jalur Ring of Fire—zona cincin api yang rawan aktivitas seismik.
Dalam konteks tersebut, kebutuhan akan solusi retrofitting atau perkuatan bangunan menjadi semakin mendesak, terutama bagi pengembang perumahan yang membangun hunian massal di berbagai daerah.
Kisah myECO, Efisiensi dalam Genggaman
Bayangkan sebuah rumah yang bisa “berpikir” sendiri untuk menghemat pengeluaran penghuninya. Itulah visi yang dibawa oleh myECO, salah satu pemenang yang menawarkan Inovasi Solutif melalui teknologi rumah pintar ramah lingkungan.
Dengan sistem IoT yang mampu mematikan listrik secara otomatis berdasarkan keberadaan orang, myECO menjawab kegelisahan masyarakat akan tagihan listrik yang terus membengkak.
Inovasi ini membuktikan bahwa efisiensi energi kini bisa diakses oleh siapa saja, menjadikannya solusi nyata bagi hunian modern yang hemat biaya operasional.
MGK Serang, Standar Baru Rumah Subsidi
Jika selama ini rumah subsidi identik dengan kualitas seadanya, Perumahan Mulia Gading Kencana (MGK) Serang datang untuk mematahkan stigma tersebut.
Meraih Juara 1 kategori Affordable House Development (Established Business), MGK Serang membuktikan bahwa kualitas premium bisa berjalan beriringan dengan harga terjangkau.

“Kami mengedepankan kualitas dengan harga terjangkau,” ungkap Samuel S. Huang, Direktur Utama PT Infiniti Triniti Jaya.
MGK Serang menjadi pionir rumah subsidi dengan sertifikat Bangunan Gedung Hijau predikat Utama, lengkap dengan sirkulasi udara optimal, penggunaan panel surya, hingga danau resapan mandiri.
Menuju Masa Depan Berkelanjutan
BTN Housingpreneur 2025 bukan hanya tentang trofi dan hadiah total Rp1,5 miliar. Ini adalah tentang Keberlanjutan—bagaimana menciptakan program perumahan yang inklusif dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
Ryan Maurice Tallulah—anggota Dewan Juri BTN Housingpreneur 2025 sekaligus pendiri BARDI Smart Home—menangkap fenomena menarik dari komposisi peserta tahun ini.
Menurutnya, kehadiran pelaku usaha yang sudah mapan (established business) berdampingan dengan mahasiswa dan inovator umum menjadi sinyal kuat bahwa kompetisi ini memiliki daya tarik strategis, bukan sekadar ajang adu gagasan.
Ryan menilai, magnet utama itu terletak pada posisi strategis BTN dalam ekosistem perumahan nasional. Selama ini, BTN dikenal sebagai bank yang konsisten membangun jejaring dengan para pengembang dan pelaku industri pendukung sektor hunian. Reputasi tersebut, kata dia, membuat BTN Housingpreneur dipandang sebagai gerbang kolaborasi yang konkret.
“Para established business ikut kompetisi ini dan tentu ingin menang. Tapi motivasinya bukan semata hadiah ratusan juta rupiah. Mereka melihat peluang untuk masuk ke dalam ekosistem BTN dan terhubung dengan developer-developer yang sudah lama bekerja sama dengan BTN,” ujar Ryan.
Dalam pandangannya, kompetisi ini telah bertransformasi menjadi semacam platform kurasi inovasi. Bukan hanya memilih ide terbaik, tetapi juga membuka akses pasar. Bagi pelaku usaha yang telah memiliki produk dan rekam jejak, masuk ke jejaring BTN berarti peluang mendapatkan proyek riil—order langsung dari pengembang yang membangun ribuan unit rumah setiap tahun.
Di titik inilah, BTN Housingpreneur tak lagi sekadar lomba. Ia menjelma menjadi simpul pertemuan antara inovasi, permodalan, dan pasar—ruang temu yang mempercepat adopsi teknologi di sektor perumahan sekaligus memperluas dampak bisnis bagi para inovator.



