REI Santuni 2.000 Anak Yatim, Perkuat Semangat Gotong Royong di Tengah Tantangan Ekonomi
Buka puasa bersama jadi ajang kepedulian sosial sekaligus momentum dukungan terhadap program 3 juta rumah dan kebijakan perumahan pemerintah.

JAKARTA, KORIDOR.ONLINE – Suasana hangat penuh kebersamaan terasa di The Tribrata Hotel & Convention Center, Kamis (5/3). Di tempat itu, Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) menggelar acara buka puasa bersama sekaligus santunan kepada sekitar 2.000 anak yatim-piatu dari 10 yayasan panti asuhan di Jakarta.
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi di bulan Ramadan, tetapi juga mencerminkan kepedulian sosial asosiasi pengembang tersebut terhadap masyarakat yang membutuhkan.
Ketua Umum DPP REI, Joko Suranto, mengatakan kegiatan berbagi dengan anak yatim piatu merupakan tradisi yang terus dijaga oleh REI sebagai bagian dari tanggung jawab sosial organisasi. Menurutnya, kegiatan tersebut juga didukung oleh sejumlah mitra perbankan syariah, di antaranya Bank Syariah Indonesia dan Bank Syariah Nasional.
“Terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung kegiatan ini, khususnya Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Bapak Maruarar Sirait yang berkenan hadir. Semoga beliau selalu diberikan kesehatan sehingga program 3 juta rumah dapat berjalan baik sesuai harapan Presiden Prabowo Subianto,” ujar Joko Suranto.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri PKP Maruarar Sirait atau yang akrab disapa Ara menyampaikan apresiasi atas inisiatif REI yang terus menjaga semangat gotong royong melalui kegiatan berbagi. Ia berharap REI dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, khususnya dalam menghadirkan hunian layak bagi rakyat.
“Ini semangat kita, gotong royong untuk rakyat,” tegasnya.
Turut hadir dalam acara tersebut sejumlah tokoh dan pejabat, di antaranya Penasihat Khusus Presiden bidang Kamtibnas dan Reformasi Kepolisian Ahmad Dofiri, Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho, Deputi Komisioner BP Tapera Sid Herdi Kusuma, serta jajaran pimpinan perbankan syariah.
Optimisme Sektor Properti
Usai acara buka puasa bersama, Ketua Umum REI Joko Suranto menyampaikan bahwa pelaku usaha properti tetap membangun optimisme di tengah dinamika geopolitik global yang berpotensi memengaruhi perekonomian nasional.
Menurutnya, gejolak geopolitik di kawasan Timur Tengah memang dapat memberi tekanan terhadap ekonomi global, namun Indonesia dinilai memiliki fundamental yang cukup kuat, termasuk di sektor properti.
“Kita harus tetap mengaungkan optimisme bahwa ekonomi kita kuat, termasuk sektor properti,” katanya.
Ia menilai target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,4–5,6 persen masih berpotensi tercapai dengan dukungan berbagai program pemerintah, termasuk program pembangunan tiga juta rumah.
REI juga mendorong agar pembangunan hunian vertikal di kawasan perkotaan dapat dipercepat. Menurut Joko, pengembangan hunian vertikal akan memberikan dampak ekonomi yang luas, mulai dari pergerakan investasi, perputaran uang, hingga penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar.
Dukung Tenor KPR hingga 30 Tahun
Selain itu, REI menyambut positif rencana pemerintah memperpanjang tenor Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi hingga 30 tahun yang telah mendapatkan persetujuan dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Kebijakan tersebut dinilai dapat meningkatkan keterjangkauan masyarakat dalam memiliki rumah.
“Dengan tenor yang lebih panjang, cicilan menjadi lebih ringan sehingga memberikan peluang lebih besar bagi masyarakat untuk memiliki rumah,” jelas Joko.
Ia juga menilai kebijakan ini berpotensi menurunkan risiko kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL), sekaligus memperkuat stabilitas sektor pembiayaan perumahan.
Dorong Sinergi dengan BPJS Ketenagakerjaan
Terkait target penyaluran KPR bersubsidi melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sebanyak 350.000 unit pada 2026, Joko menilai diperlukan langkah-langkah luar biasa untuk meningkatkan pasokan maupun permintaan. Pasalnya, pada tahun sebelumnya penyaluran KPR FLPP baru mencapai sekitar 83 persen dari target yang ditetapkan.
Salah satu strategi yang didorong REI adalah memperkuat kerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan. Menurutnya, sekitar 76 persen penerima KPR FLPP selama ini merupakan peserta BPJS Ketenagakerjaan. Dengan basis data pekerja yang jelas serta penghasilan tetap, potensi peserta BPJS Ketenagakerjaan untuk mengakses pembiayaan perumahan dinilai lebih terukur.
“Kalau kerja sama ini bisa didorong dan diorganisir sampai tingkat kabupaten secara masif, saya yakin target itu bisa tercapai,” tegasnya.
Joko juga menekankan pentingnya edukasi finansial bagi masyarakat agar mampu mengelola penghasilan secara bijak, termasuk memprioritaskan kepemilikan rumah dibandingkan konsumsi yang tidak produktif. Melalui kegiatan sosial seperti santunan anak yatim piatu ini, REI berharap nilai kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama tetap menjadi bagian dari perjalanan organisasi yang telah berdiri lebih dari lima dekade tersebut.



