Aktual

Modal Tak Harus Miliaran, Lelang BTN Buka Jalan Kelas Menengah Jadi Pebisnis Properti

Memasuki triwulan IV 2026, sebanyak 6.000 agunan telah terdaftar untuk dilelang dari target pendaftaran 10.000 agunan sepanjang tahun ini.

JAKARTA, KORIDOR.ONLINE – Bisnis properti tak lagi harus dimulai dengan modal miliaran rupiah. Melalui pembelian aset hasil lelang, masyarakat kelas menengah berpeluang menjadi pelaku usaha properti dengan memanfaatkan rumah-rumah bernilai Rp200 juta hingga Rp500 juta yang ditawarkan melalui lelang BTN.

Pengamat properti Panangian Simanungkalit menilai segmen tersebut memiliki potensi besar untuk melahirkan pelaku usaha baru di sektor properti. Kombinasi harga aset yang relatif terjangkau, dukungan pembiayaan, dan kemudahan memperoleh informasi melalui platform digital membuat bisnis jual beli rumah semakin terbuka bagi masyarakat.

Peluang ini muncul ketika sebagian investor masih bersikap hati-hati terhadap properti dengan nilai di atas Rp1 miliar. Sebaliknya, rumah dengan harga lebih rendah dinilai memiliki pasar tersendiri, baik untuk dibeli, direnovasi, kemudian dijual kembali maupun dimanfaatkan sebagai tempat tinggal.

“Ini akan menciptakan property-preneur di kalangan menengah. Bahkan mungkin menengah ke bawah,” ujar Panangian dalam diskusi mengenai lelang properti BTN di Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Menurut dia, mekanisme bisnis tersebut relatif sederhana dan menyerupai perdagangan mobil bekas. Pelaku usaha membeli aset dengan harga menarik, melakukan perbaikan atau renovasi, lalu menjualnya kembali untuk memperoleh keuntungan.

Dalam skema ini, harga pembelian menjadi salah satu faktor penentu. Ketersediaan fasilitas pembiayaan juga dapat membantu calon pembeli yang ingin memanfaatkan aset lelang sebagai peluang usaha.

Pasar Lelang Terus Berkembang

Potensi pasar tersebut tercermin dari perkembangan penjualan aset BTN. Berdasarkan data perseroan, jumlah aset yang berhasil terjual melalui lelang sejak Agustus 2026 telah melampaui total pencapaian sepanjang 2025.

Memasuki triwulan IV 2026, sebanyak 6.000 agunan telah terdaftar untuk dilelang dari target pendaftaran 10.000 agunan sepanjang tahun ini. BTN juga membidik peningkatan rasio laku lelang nasional menjadi 35% pada akhir tahun, dibandingkan posisi saat ini yang berada di kisaran 21%.

| Baca Juga:   Pelaku Realestat Asia Pasifik Optimis Pemulihan COVID-19

Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara menjadi sejumlah wilayah yang diandalkan untuk menopang penjualan aset perseroan.

Untuk memperluas jangkauan pasar, BTN memanfaatkan berbagai saluran pemasaran digital, mulai dari Bale by BTN, web Bale Lelang, media sosial, hingga portal properti Rumah123 dan Pinhome. Strategi tersebut diperkuat melalui kolaborasi dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN), Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL), serta agen properti.

BTN juga menyediakan fasilitas KPR Maju bagi calon pembeli yang membutuhkan dukungan pembiayaan. Dengan demikian, aset lelang tidak hanya ditawarkan kepada investor, tetapi juga dapat diakses masyarakat yang membutuhkan rumah.

Panangian menilai digitalisasi pemasaran turut mengubah cara masyarakat mencari dan memilih properti lelang. Calon pembeli kini dapat menelusuri aset berdasarkan lokasi yang diminati, memperoleh informasi awal secara daring, kemudian melakukan survei langsung sebelum mengikuti proses lelang.

“Jadi orang sudah bisa melihat propertinya melalui digital platform,” katanya.

End-User Diuntungkan

Selain membuka peluang bisnis, aset lelang BTN juga berpotensi menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin memiliki rumah di kawasan yang sudah berkembang. Menurut Panangian, pembeli untuk kebutuhan hunian sendiri atau end-user tetap memiliki pasar yang kuat, terutama di lokasi-lokasi matang.

Ia mencontohkan keluarga yang telah lama tinggal dengan menyewa rumah di suatu kawasan dan ingin tetap menetap di lingkungan tersebut. Pertimbangan kedekatan dengan keluarga, tempat kerja, hingga akses transportasi membuat mereka cenderung mencari hunian di lokasi yang sama.

“End-user pasti ada, terutama di lokasi-lokasi yang sudah matang,” tuturnya.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pasar lelang properti memiliki dua segmen potensial. Pertama, masyarakat yang ingin memanfaatkan aset sebagai peluang usaha melalui renovasi dan penjualan kembali. Kedua, pembeli yang membutuhkan rumah untuk dihuni sendiri.

| Baca Juga:   Presiden Jokowi Resmikan Tol Kayu Agung - Palembang-Betung

Dengan pilihan aset pada rentang harga Rp200 juta hingga Rp500 juta, lelang BTN dinilai dapat memperluas akses masyarakat terhadap pasar properti. Pada saat yang sama, skema ini membuka peluang lahirnya pelaku usaha baru dari kalangan menengah yang selama ini mungkin belum memiliki akses untuk masuk ke bisnis properti.

Erfendi

Penulis dan penikmat informasi terkait industri properti dan turunannya dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Email: exa_lin@yahoo.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button