Finansial

  • Bank Jakarta Sabet Golden Champion Kepuasan dan Loyalitas Nasabah

    JAKARTA, KORIDOR.ONLINE –  Seiring komitmen dalam meningkatkan kualitas layanan perbankan yang berorientasi pada kepuasan, loyalitas, dan keterikatan nasabah, Bank Jakarta meraih penghargaan sebagai Golden Champion in Satisfaction, Loyalty, & Engagement pada ajang 8th Infobank Satisfaction, Loyalty, and Engagement 2026 yang diterima langsung oleh Direktur Kepatuhan Bank Jakarta, Ateng Rivai, di Jakarta pada Kamis (22/01).

    Adapun secara rinci sejumlah kategori penghargaan yang diterima Bank Jakarta atas kualitas layanan yang diberikan kepada nasabah, yaitu sebagai kategori terbaik The Best Region Bank in Marketing Engagement, The Best Region Bank in Customer Centricity, The Best Region Bank in Brand Interactivity, The Most Satisfying Region Bank in ATM Service, The 2nd Best Region Bank in Loyalty, The 2nd Best Region Bank in Perceived Security, serta The 2nd Most Satisfying Region Bank in Mobile Banking. Atas seluruh pencapaian tersebut, Bank Jakarta dinobatkan sebagai The 2nd Best Region Bank in Satisfaction, tovaltv, and Engagement 2026.

    Direktur Kepatuhan Bank Jakarta, Ateng Rivai menyampaikan bahwa penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi atas upaya dan komitmen berkelanjutan Bank Jakarta dalam mentranformasikan produk dan layanan yang berfokus pada kebutuhan nasabah.

    “Penghargaan ini mencerminkan kepercayaan dan loyalitas nasabah kepada Bank Jakarta. Capaian ini sekaligus menjadi tanggung jawab bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas layanan, memperkuat inovasi digital, serta menjaga keandalan dan keamanan sistem perbankan, termasuk penerapan prinsip kepatuhan, manajemen risiko, serta tata kelola perusahaan yang baik,” ujarnya.

    Lebih lanjut, Ateng menegaskan bahwa Bank Jakarta berkomitmen untuk terus memperkuat fungsi kepatuhan sebagai bagian integral dalam mendukung transformasi bisnis yang berkelanjutan, sehingga Bank Jakarta dapat terus berperan sebagai bank daerah yang adaptif, kompetitif, dan berintegritas, sejalan dengan dinamika industri perbankan serta dukungan terhadap agenda pembangunan ekonomi nasional.

    Penghargaan 8th lnfobank SLE 2026 diberikan berdasarkan hasil riset independen yang mengukur persepsi dan pengalaman nasabah terhadap layanan perbankan. Adapun indikator penilaian mencakup antara lain tingkat kepuasan nasabah (customer satisfaction), loyalitas dan intensi penggunaan ulang layanan
    (customer loyalty), keterikatan dan interaksi nasabah dengan merek (customer engagement), kualitas
    layanan dan kemudahan akses di berbagai kanal, keamanan transaksi, serta kinerja layanan digital dan jaringan ATM.

    Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Perusahaan Bank Jakarta, Arie Rinaldi, menambahkan bahwa capaian ini menjadi pengingat bagi Bank Jakarta untuk terus melakukan evaluasi dan penguatan layanan, sekaligus menjaga konsistensi dalam membangun kepercayaan nasabah secara berkelanjutan.

    “Penghargaan ini mendorong Bank Jakarta untuk terus konsisten dalam memperkuat customer centricity, engagement, serta kualitas layanan di seluruh touchpoint, baikjaringan kantor, ATM, maupun kanal digital, secara efektif dan terukur. Ke depan, Bank Jakarta akan terus melanjutkan agenda transformasi melalui inovasi berkelanjutan guna meningkatkan pengalaman nasabah secara konsisten,” tutup Arie

    Jakarta – Seiring komitmen dalam meningkatkan kualitas layanan perbankan yang berorientasi pada kepuasan, loyalitas, dan keterikatan nasabah, Bank Jakarta meraih penghargaan sebagai Golden Champion in Satisfaction, Loyalty, & Engagement pada ajang 8th Infobank Satisfaction, Loyalty, and Engagement 2026 yang diterima langsung oleh Direktur Kepatuhan Bank Jakarta, Ateng Rivai, di Jakarta pada Kam is (22/01).

    Adapun secara rinci sejumlah kategori penghargaan yang diterima Bank Jakarta atas kualitas layanan yang diberikan kepada nasabah, yaitu sebagai kategori terbaik The Best Region Bank in Marketing Engagement, The Best Region Bank in Customer Centricity, The Best Region Bank in Brand Interactivity, The Most Satisfying Region Bank in ATM Service, The 2nd Best Region Bank in Loyalty, The 2nd Best Region Bank in Perceived Security, serta The 2nd Most Satisfying Region Bank in Mobile Banking. Atas seluruh pencapaian tersebut, Bank Jakarta dinobatkan sebagai The 2nd Best Region Bank in Satisfaction, tovaltv, and Engagement 2026.

    Direktur Kepatuhan Bank Jakarta, Ateng Rivai menyampaikan bahwa penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi atas upaya dan komitmen berkelanjutan Bank Jakarta dalam mentranformasikan produk dan layanan yang berfokus pada kebutuhan nasabah.

    “Penghargaan ini mencerminkan kepercayaan dan loyalitas nasabah kepada Bank Jakarta. Capaian ini sekaligus menjadi tanggung jawab bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas layanan, memperkuat inovasi digital, serta menjaga keandalan dan keamanan sistem perbankan, termasuk penerapan prinsip kepatuhan, manajemen risiko, serta tata kelola perusahaan yang baik,” ujarnya.

    Lebih lanjut, Ateng menegaskan bahwa Bank Jakarta berkomitmen untuk terus memperkuat fungsi kepatuhan sebagai bagian integral dalam mendukung transformasi bisnis yang berkelanjutan, sehingga Bank Jakarta dapat terus berperan sebagai bank daerah yang adaptif, kompetitif, dan berintegritas, sejalan dengan dinamika industri perbankan serta dukungan terhadap agenda pembangunan ekonomi nasional.

    Penghargaan 8th lnfobank SLE 2026 diberikan berdasarkan hasil riset independen yang mengukur persepsi dan pengalaman nasabah terhadap layanan perbankan. Adapun indikator penilaian mencakup antara lain tingkat kepuasan nasabah (customer satisfaction), loyalitas dan intensi penggunaan ulang layanan
    (customer loyalty), keterikatan dan interaksi nasabah dengan merek (customer engagement), kualitas
    layanan dan kemudahan akses di berbagai kanal, keamanan transaksi, serta kinerja layanan digital dan jaringan ATM.

    Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Perusahaan Bank Jakarta, Arie Rinaldi, menambahkan bahwa capaian ini menjadi pengingat bagi Bank Jakarta untuk terus melakukan evaluasi dan penguatan layanan, sekaligus menjaga konsistensi dalam membangun kepercayaan nasabah secara berkelanjutan.

    “Penghargaan ini mendorong Bank Jakarta untuk terus konsisten dalam memperkuat customer centricity, engagement, serta kualitas layanan di seluruh touchpoint, baikjaringan kantor, ATM, maupun kanal digital, secara efektif dan terukur. Ke depan, Bank Jakarta akan terus melanjutkan agenda transformasi melalui inovasi berkelanjutan guna meningkatkan pengalaman nasabah secara konsisten,” tutup Arie

  • Saham DADA Terbang 35%, Pasar Mulai Revaluasi Prospek Perseroan

    JAKARTA, KORIDOR.ONLINE – Saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) mencatat lonjakan signifikan di awal tahun 2026. Dalam waktu sekitar 15 menit perdagangan, harga saham emiten properti ini melesat hingga 35% dari level Rp50, dengan pergerakan yang tegas dan didukung volume transaksi yang solid.

    Penguatan ini dinilai bukan sekadar fluktuasi sesaat. Investor mulai merespons positif prospek kinerja perseroan ke depan, seiring perbaikan fundamental yang mulai tercermin. DADA dikenal fokus pada pengembangan hunian bernilai tambah dengan portofolio proyek yang terus berjalan.

    Direktur & CEO PT Diamond Citra Propertindo Tbk, Bayu Setiawan, mengungkapkan bahwa lonjakan laba menjadi salah satu faktor utama yang menarik perhatian pasar.

    “Berdasarkan laporan keuangan terakhir, pertumbuhan laba DADA melonjak signifikan, bahkan mencapai ratusan persen dari kuartal II ke kuartal III. Ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya bertahan, tetapi mampu melakukan akselerasi bisnis,” ujarnya.

    Menurut Bayu, kenaikan laba tersebut menjadi sinyal awal bahwa valuasi lama tidak lagi relevan. Harga saham di level Rp50 dinilai belum mencerminkan kondisi fundamental terkini perseroan.

    Di kalangan analis, pergerakan saham seperti ini kerap disebut sebagai fase awakening, yakni transisi dari saham yang sebelumnya kurang diperhatikan menjadi saham dengan cerita pertumbuhan baru. Lonjakan harga yang terjadi dinilai sebagai sinyal awal proses re-rating valuasi.

    Meski demikian, investor tetap disarankan mencermati faktor risiko, termasuk kondisi makroekonomi dan realisasi kinerja perseroan ke depan.

    “Ke depan, saham DADA berpeluang melanjutkan penguatan jika perusahaan mampu menjaga kinerja penjualan, merealisasikan proyek sesuai rencana, dan menghadirkan katalis positif,” kata Bayu.

  • Nixon L.P. Napitupulu Kembali Nahkodai BTN

    JAKARTA, KORIDOR.ONLINE – Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) yang digelar pada Rabu, 7 Januari 2026, menyetujui penambahan satu anggota dewan komisaris. Dalam rapat tersebut, pemegang saham mengesahkan pengangkatan Didyk Choiroel sebagai Komisaris BTN.

    Didyk Choiroel saat ini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP). Sesuai ketentuan yang berlaku, pengangkatan tersebut akan efektif setelah Didyk dinyatakan lulus uji kemampuan dan kepatutan (fit and proper test) yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
    Sementara itu, RUPSLB BTN tidak mengubah susunan dewan direksi. Nixon L.P. Napitupulu kembali dipercaya untuk melanjutkan kepemimpinannya sebagai Direktur Utama BTN. Nixon sebelumnya menjabat sebagai Dirut BTN sejak 16 Maret 2023 dan kembali ditetapkan untuk periode kedua melalui RUPS Tahunan 2025 pada 26 Maret 2025, berdasarkan persetujuan OJK.
    Hingga saat ini, susunan dewan direksi BTN tetap diisi oleh Oni Febrianto Rahardjo sebagai Wakil Direktur Utama, Tan Jacky Chen sebagai Direktur Information Technology, Venda Yuniarti sebagai Direktur Treasury & International Banking, Helmy Afrisa Nugroho sebagai Direktur Corporate Banking, serta Setiyo Wibowo sebagai Direktur Risk Management.
    Adapun jajaran direksi lainnya mencakup Hirwandi Gafar sebagai Direktur Consumer Banking, Nofry Rony Poetra sebagai Direktur Finance & Strategy, Eko Waluyo sebagai Direktur Human Capital & Compliance, I Nyoman Sugiri Yasa sebagai Direktur Operations, Rully Setiawan sebagai Direktur Network & Retail Funding, serta Hermita sebagai Direktur Commercial Banking.
    Pada jajaran dewan komisaris, BTN masih mempertahankan susunan sebelumnya, yakni Suryo Utomo sebagai Komisaris Utama, Dwi Ary Purnomo sebagai Wakil Komisaris Utama, Fahri Hamzah sebagai Komisaris, serta Komisaris Independen Ida Nuryanti, Pietra Machreza Paloh, dan Panangian Simanungkalit. Dengan masuknya Didyk Choiroel, komposisi dewan komisaris dinilai semakin solid dalam mendukung arah transformasi perseroan.
    Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu menyampaikan bahwa di tengah tantangan dinamika makroekonomi dan proses pemulihan nasional, perseroan mampu mencatatkan kinerja yang solid hingga akhir 2025. Total aset BTN tercatat tumbuh 8,6 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi sekitar Rp510 triliun.
    “Kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan kredit serta dana pihak ketiga yang tetap positif dan sehat. Seluruh rasio keuangan BTN juga terjaga dan berada di atas ketentuan minimal regulator,” ujar Nixon.
    Lebih lanjut, Nixon menegaskan bahwa penyesuaian dan penguatan susunan pengurus merupakan bagian dari strategi jangka panjang BTN untuk memastikan organisasi tetap adaptif terhadap perkembangan industri perbankan dan arah kebijakan ekonomi nasional.
    “Langkah ini ditujukan untuk memperkuat struktur organisasi, meningkatkan sinergi antarfungsi, serta mempercepat pengambilan keputusan strategis agar transformasi bisnis BTN dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan,” kata Nixon.
    Manajemen BTN optimistis, bergabungnya Didyk Choiroel sebagai Komisaris baru akan memberikan nilai tambah dalam memperkuat kepemimpinan strategis perseroan. Komposisi pengurus saat ini diharapkan mampu mendukung akselerasi transformasi bisnis BTN, termasuk peran perseroan dalam mendukung Program 3 Juta Rumah serta meningkatkan daya saing di tengah kompetisi industri perbankan nasional.
    Perubahan susunan pengurus tersebut akan berlaku efektif setelah memperoleh persetujuan OJK dan memenuhi seluruh ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  • BTN Kokoh sebagai Penyalur KPR Sejahtera FLPP Terbesar Nasional 2025

    JAKARTA, KORIDOR.ONLINE PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menjadi penyalur Kredit Pemilikan Rumah dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR Sejahtera FLPP) terbesar secara nasional dengan total realisasi mencapai 128.608 unit rumah subsidi atau setara 46,7% dari total penyaluran nasional sebanyak 270.985 unit hingga 22 Desember 2025.

    Hal tersebut dipaparkan oleh Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) di Jakarta, Selasa (23/12). Berdasarkan data BP Tapera, BTN menjadi bank penyalur KPR FLPP Sejahtera dengan realisasi penyaluran tertinggi di antara 39 bank penyalur dengan rumah yang dibangun oleh 8.058 pengembang yang terdiri dari 13.118 perumahan yang tersebar di 33 provinsi di 401 kabupaten/kota.

    Anak usaha BTN, yakni PT Bank Syariah Nasional (BSN) menjadi penyalur terbesar kedua dengan total realisasi penyaluran sebanyak 59.463 unit saat BSN masih berupa Unit Usaha Syariah (BTN Syariah). Secara total, penyaluran oleh BTN dan BSN mencapai 188.071 hingga 22 Desember 2025.

    Direktur Consumer Banking BTN Hirwandi Gafar (kiri) bersalaman dengan Maruarar Sirait, Menteri PKP. Foto: BTN

    Atas pencapaian ini, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mengungkapkan apresiasinya terhadap BTN di antara bank-bank penyalur KPR FLPP lainnya. Menteri PKP mengapresiasi optimisme BTN untuk dapat mendukung target nasional pada tahun 2026 yang ditetapkan pemerintah sebanyak 350.000 unit.

    “Terima kasih Bapak, Ibu (manajemen bank-bank penyalur KPR Sejahtera FLPP) atas dukungannya. Semoga kita bisa bantu rakyat, karena perbankan merupakan ekosistem yang sangat penting,” ujar Menteri PKP dalam acara Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama dengan 43 Bank Penyalur tentang penyaluran KPR Sejahtera FLPP bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) Tahun 2026 di Kantor BP Tapera, Jakarta, Selasa (23/12).

    Pada kesempatan tersebut, BTN menjadi salah satu dari 10 bank penyalur KPR Sejahtera FLPP tertinggi yang menandatangani perjanjian kerja sama untuk penyaluran FLPP pada tahun 2026. Direktur Consumer Banking BTN Hirwandi Gafar mengatakan, BTN berkomitmen untuk mengoptimalisasi penyaluran KPR FLPP pada 2026 seiring dengan berbagai upaya yang dilakukan selama ini dalam mendukung Program 3 Juta Rumah yang diusung pemerintah.

    “BTN masih menjadi bank penyalur KPR Subsidi terbesar secara nasional dan portofolio KPR Subsidi saat ini juga mencapai 64% dari total portofolio KPR BTN. Pertumbuhan KPR Subsidi tetap stabil sepanjang tahun 2025 dan diharapkan permintaannya akan meningkat pada tahun 2026 seiring dengan meningkatnya kebutuhan rumah layak dan terjangkau bagi MBR,” tutur Hirwandi.

    Hirwandi mengatakan, di tengah beragam tantangan pada tahun 2025, seperti faktor cuaca yang kurang baik yang seringkali menghambat pembangunan proyek perumahan dan kendala perizinan di lapangan, BTN berhasil menyalurkan KPR Sejahtera FLPP bagi masyarakat yang membutuhkan hunian layak dan terjangkau.

    “Permintaan untuk KPR FLPP di BTN terus meningkat dan BTN siap menyalurkan sesuai dengan pipeline yang tersedia. Untuk itu, BTN akan terus berdiskusi dengan pemerintah dan para mitra pengembang agar penyaluran KPR FLPP dapat lebih efektif pada tahun depan,” jelas Hirwandi.

    Pada 2026, BTN akan memperkuat fungsi intermediasinya termasuk untuk penyaluran KPR Subsidi dengan mengerahkan upaya yang lebih proaktif dalam mencari calon-calon debitur potensial. Salah satunya, kata Hirwandi, dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai institusi dan korporasi yang memiliki jumlah karyawan cukup masif melalui anak-anak usaha atau perusahaan terafiliasi mereka.

    “BTN melihat banyak institusi dan korporasi potensial yang memiliki ribuan atau bahkan puluhan ribu karyawan di berbagai subholding atau anak usaha. Jika BTN dapat menjadi bank pilihan utama mereka untuk bertransaksi perbankan, maka potensinya besar sekali bagi karyawan atau pegawai mereka menjadi calon nasabah KPR Subsidi,” ujarnya.

    Seiring dengan penandatanganan perjanjian kerja sama dengan bank-bank penyalur, Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho mengungkapkan penyaluran KPR Sejahtera FLPP pada 2026 dapat dimulai lebih awal yakni sejak awal bulan Januari.

    “Ini pertama kalinya FLPP bisa dilakukan pencairan di awal Januari 2026, jadi kami harapkan teman-teman pengembang kalau masih dalam proses finishing, dilanjutkan saja,” ungkapnya.

  • BSN Resmi Beroperasi Nasional, Siap Jadi Motor Baru Perbankan Syariah Indonesia

    JAKARTA, KORIDOR.ONLINE – PT Bank Syariah Nasional (BSN) resmi memulai operasional penuh secara nasional pada Senin (22/12). Bank hasil spin-off dari PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. ini optimistis menjadi katalisator baru dalam mendorong pertumbuhan industri perbankan syariah Indonesia.

    Peresmian operasional BSN dilakukan setelah mendapat persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada November 2025. Sejak hari ini, seluruh jaringan kantor BSN di Indonesia telah aktif melayani nasabah.

    Direktur Utama BSN Alex Sofjan Noor menyatakan, beroperasinya BSN secara nasional menandai kesiapan perseroan menjalankan peta jalan bisnis yang telah disusun sejak proses spin-off. Momentum ini sekaligus menjadi titik awal strategi ekspansi yang lebih agresif dan adaptif.

    “Mulainya operasional BSN secara nasional menunjukkan bahwa seluruh tahapan transformasi telah berjalan sesuai rencana. Dengan fundamental yang kuat, kami optimistis BSN dapat tumbuh berkelanjutan dan berkontribusi besar bagi penguatan perbankan syariah nasional,” ujar Alex saat melayani nasabah di Kantor Cabang BSN Jakarta Harmoni, Senin (22/12).

    Potensi Besar Pasar Perbankan Syariah

    Alex menilai, potensi pengembangan perbankan syariah di Indonesia masih sangat luas. Selain pembiayaan perumahan, berbagai produk dan layanan seperti tabungan emas, tabungan haji dan umrah, hingga gadai emas dinilai memiliki prospek pertumbuhan yang signifikan.

    “Dengan populasi Muslim mencapai 242,7 juta jiwa, Indonesia memiliki pasar yang sangat besar untuk pengembangan produk keuangan syariah,” jelasnya.

    beroperasinya BSN secara nasional menandai kesiapan perseroan menjalankan peta jalan bisnis yang telah disusun sejak proses spin-off.

    Potensi tersebut tercermin dari masih rendahnya Indeks Inklusi Keuangan Syariah yang baru mencapai 12,88%, meski Indeks Literasi Keuangan Syariah (ILKS) telah berada di level 39,11% pada 2024. Menurut Alex, tantangan utama industri saat ini adalah meningkatkan kemudahan akses masyarakat terhadap produk dan layanan perbankan syariah.

    Untuk meningkatkan inklusi keuangan syariah, BSN fokus mengembangkan layanan berbasis digital yang terintegrasi dengan jaringan fisik. Hingga kini, BSN didukung oleh 35 Kantor Cabang Syariah, 76 Kantor Cabang Pembantu Syariah, serta 589 Kantor Layanan Syariah di berbagai daerah.

    “Kami mengombinasikan layanan digital dan tatap muka agar produk BSN mudah diakses oleh masyarakat dan pelaku usaha. Edukasi berkelanjutan juga menjadi kunci agar layanan syariah dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat,” kata Alex.

    Kinerja Solid dan Aset Tembus Rp71 Triliun

    Berdasarkan laporan keuangan per September 2025—saat masih berstatus Unit Usaha Syariah BTN—penyaluran pembiayaan tercatat tumbuh 19,7% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp51,1 triliun. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) meningkat 19,3% yoy menjadi Rp56,9 triliun.

    Pertumbuhan tersebut mendorong total aset menjadi Rp68,4 triliun per 30 September 2025. Setelah penggabungan UUS BTN dengan Bank Victoria Syariah, total aset BSN meningkat menjadi Rp71,3 triliun per November 2025, menjadikannya bank umum syariah terbesar kedua di Indonesia.

    “Skala bisnis yang semakin besar akan kami optimalkan untuk memperluas pembiayaan dan mempercepat ekspansi pasar. BSN ingin menghadirkan produk dan layanan keuangan syariah yang berkah, amanah, dan tepercaya bagi masyarakat luas,” tegas Alex.

    Manajemen BSN memastikan proses transisi dari Unit Usaha Syariah BTN ke Bank Syariah Nasional tidak berdampak pada nasabah. Seluruh proses dilakukan sesuai ketentuan regulator dan berjalan secara terstruktur, sehingga nasabah tetap dapat menggunakan layanan seperti biasa tanpa perubahan administrasi.

    “Keamanan dan kenyamanan nasabah adalah prioritas utama kami. Jika ada penyesuaian, informasi akan disampaikan melalui saluran komunikasi resmi BSN,” tutup Alex.

  • Bank Jakarta Tuntaskan 100% Penyaluran Dana Pemerintah Senilai Rp1 Triliun

    JAKARTA, KORIDOR.ONLINE — Bank Jakarta mengumumkan bahwa penyaluran dana pemerintah pusat sebesar Rp1 triliun yang ditempatkan melalui Kementerian Keuangan pada November 2025 telah selesai disalurkan sepenuhnya. Penyaluran dilakukan dalam periode 12–21 November 2025 dan telah dilaporkan secara resmi kepada Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

    Penempatan dana tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat likuiditas perbankan daerah sekaligus mempercepat pemulihan dan pertumbuhan ekonomi melalui pembiayaan sektor-sektor produktif di wilayah Jakarta.

    Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, menyampaikan apresiasi dan komitmen atas kepercayaan pemerintah pusat:

    “Kami mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Keuangan atas penempatan dana yang diberikan. Kepercayaan ini menjadi energi penting bagi Bank Jakarta untuk memperkuat fungsi intermediasi dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat serta perekonomian daerah.”

    Agus menegaskan bahwa keberhasilan penyaluran ini mencerminkan kesiapan operasional Bank Jakarta dalam mendukung mandat kebijakan fiskal pemerintah melalui penyaluran pembiayaan yang produktif dan terukur.

    “Bank Jakarta siap menerima dan mengelola penempatan dana berikutnya dalam jumlah lebih besar. Dengan tata kelola yang baik, prinsip kehati-hatian, serta fokus pada sektor produktif, kami memastikan bahwa setiap dana yang ditempatkan pemerintah memberikan manfaat nyata dan terukur.”

    Bank Jakarta menyalurkan dana secara tepat sasaran dengan fokus pada sektor-sektor produktif yang memberikan dampak multiplier effect tinggi terhadap perekonomian daerah, termasuk pembiayaan UMKM dan sektor padat karya.

    Setelah penyaluran dana pemerintah selesai, Bank Jakarta melanjutkan ekspansi pembiayaan dengan menggunakan likuiditas internal yang dikelola secara sehat, terukur, dan berkelanjutan. Dengan komitmen mendukung agenda percepatan ekonomi nasional, Bank Jakarta telah menyiapkan pipeline pembiayaan strategis untuk mengelola potensi penempatan dana pemerintah dalam skala lebih besar. Perencanaan dilakukan sesuai prinsip kehati-hatian, manajemen risiko yang kuat, dan tata kelola yang baik.

    Fundamental Bank Tetap Solid

    Kinerja dan ketahanan Bank Jakarta tetap dalam kondisi optimal, ditunjang oleh:

    • Tingkat Kesehatan Bank kategori “Sehat” sesuai hasil penilaian OJK semester I 2025

    • Likuiditas yang kuat dan terjaga

    • Kualitas aset yang baik dengan Non-Performing Loan (NPL) terkendali

    Kondisi ini memastikan kapasitas Bank Jakarta untuk menjalankan mandat penyaluran pembiayaan dalam skala signifikan secara akuntabel dan berkesinambungan.

  • Diamond Citra Propertindo Tumbuh Positif di Kuartal III 2025

    JAKARTA, KORIDOR.ONLINE — PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) mencatat pertumbuhan kinerja keuangan yang signifikan pada Kuartal III 2025. Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp883 juta, melonjak tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp171 juta. Capaian ini menandai momentum pemulihan setelah tekanan finansial yang dialami sepanjang 2024 dan pada Kuartal I 2025.

    Direktur PT Diamond Citra Propertindo Tbk, Bayu Setiawan, menyampaikan bahwa peningkatan laba tersebut mendorong kenaikan nilai bagi pemegang saham, dengan laba bersih per saham (earnings per share/ EPS) tercatat sebesar Rp0,119.

    “Performa ini mencerminkan stabilisasi operasional dan efektivitas strategi efisiensi yang kami terapkan sejak awal tahun. Setelah melalui fase penyesuaian di 2024 dan Kuartal I 2025, kami melihat tren pemulihan yang semakin menguat,” jelas Bayu.


    Perbandingan Kinerja Laba Bersih DADA

    Periode Laba Bersih
    Kuartal III 2025 Rp 883 juta
    Kuartal III 2024 Rp 171 juta
    Kuartal I 2025 Rp 204 juta
    Kuartal I 2024 Rp 246 juta

    Menurut Bayu, lonjakan kinerja di Kuartal III menjadi indikator penting pemulihan bisnis Perseroan, terutama didorong oleh efisiensi biaya, peningkatan pendapatan proyek berjalan, serta perbaikan manajemen arus kas.

    “Kenaikan laba ini menunjukkan kemampuan Perseroan bangkit setelah melewati periode tantangan. Fokus kami selanjutnya adalah menjaga kesinambungan pertumbuhan agar kinerja tetap menguat hingga akhir tahun,” tambahnya.

    Dengan tren kinerja yang membaik, manajemen menyatakan optimistis terhadap prospek Perseroan hingga penutupan tahun buku 2025. DADA juga memastikan akan melanjutkan strategi bisnis berbasis efisiensi dan peningkatan produktivitas untuk menopang pertumbuhan berkelanjutan.

  • BP Tapera Catat Rekor Penyaluran FLPP Tertinggi Sepanjang Sejarah

    JAKARTA, KORIDOR.ONLINE  — Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) mencatat tonggak sejarah baru dalam penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Hingga 27 November 2025, penyaluran FLPP telah mencapai 231.343 unit rumah dengan nilai pembiayaan sebesar Rp28,72 triliun, sekaligus menjadikan 2025 sebagai tahun dengan realisasi FLPP tertinggi sejak program ini diluncurkan pada 2010. Capaian ini melampaui rekor tertinggi sebelumnya yang dicatat pada tahun 2023.

    Sejak pertama kali dilaksanakan, program FLPP menunjukkan dinamika penyaluran. Pada 2010, FLPP disalurkan untuk 7.959 unit. Penyaluran melonjak pada 2011 menjadi 109.592 unit, kemudian berfluktuasi di tahun-tahun berikutnya: 64.785 unit (2012), 102.711 unit (2013), 76.057 unit (2014), dan turun ke 58.469 unit (2015). Penyaluran terendah terjadi pada 2017 dengan 23.763 unit.

    Mulai 2018, tren kembali meningkat signifikan: 57.939 unit (2018), 77.835 unit (2019), 109.253 unit (2020), 178.728 unit (2021), 226.000 unit (2022), dan 229.000 unit (2023). Adapun pada 2024, penyaluran menurun menjadi 200.300 unit sebelum kembali melonjak tajam di 2025.

    Komisioner BP Tapera, Heru Pudyo Nugroho, menyampaikan apresiasi atas pencapaian tersebut.

    “Rekor ini merupakan buah dari kerja keras semua pihak. Terima kasih kepada bank penyalur, asosiasi, para pengembang, dan seluruh pelaku ekosistem perumahan yang terus berjuang agar masyarakat berpenghasilan rendah memiliki rumah pertamanya,” ujar Heru.

    Kesuksesan penyaluran tahun ini tercapai melalui kolaborasi 39 bank penyalur, 22 asosiasi pengembang, 7.785 pengembang, dengan jangkauan 12.450 proyek perumahan di 33 provinsi dan 399 kabupaten/kota.

    FLPP tahun ini juga berhasil menyentuh beragam kelompok profesi. Penerima manfaat terbesar berasal dari tenaga kerja sektor buruh sebanyak 42.609 unit, disusul kategori profesi umum (12.999 unit). Profesi lain yang menikmati program ini meliputi guru (2.090), tenaga kesehatan (1.448), anggota Polri (894), perawat (692), petani (601), bidan (206), TNI AD (197), wartawan (73), serta ASN (89).

    Dilihat dari latar belakang pekerjaan, penerima FLPP didominasi sektor swasta sebesar 74,62%, disusul wiraswasta 13,19%, PNS 7,33%, TNI 1,95%, dan kelompok pekerjaan lainnya 2,91%.

    Melihat semakin besarnya manfaat sosial dan ekonomi dari program ini, Heru mengajak masyarakat yang belum memiliki rumah untuk segera memanfaatkan fasilitas tersebut.

    “Kesempatan ini terbuka bagi masyarakat yang memenuhi syarat. Segera ajukan, dan wujudkan rumah pertama untuk masa depan yang lebih baik,” ajaknya.

  • BSI Optimistis Sektor Properti Jadi Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi 2026

    JAKARTA, KORIDOR.ONLINE — PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI menilai prospek sektor properti nasional masih sangat menjanjikan dan berpotensi menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi pada tahun 2026. Optimisme ini didukung oleh perbaikan kondisi makroekonomi dan arah kebijakan pemerintah yang dinilai semakin pro terhadap sektor perumahan.

    Senior Vice President Consumer Business BSI, Praka Mulia Agung, mengungkapkan bahwa pembiayaan sektor properti, khususnya Kredit Pemilikan Rumah (KPR), terus menunjukkan tren positif. Hingga Juni 2025, KPR nasional tumbuh sebesar 7,66%, sedangkan pembiayaan BSI Griya mencatat pertumbuhan 8,51%, melampaui rata-rata industri dan lebih tinggi dibandingkan capaian tahun lalu yang tumbuh 8,22%.

    Sektor properti tidak pernah mengalami pertumbuhan negatif, bahkan saat pandemi Covid-19. Fluktuasi wajar terjadi karena keputusan membeli rumah merupakan keputusan jangka panjang,” ujar Praka dalam acara Inabank Investment & Property Outlook: Peluang dan Tantangan Bisnis Tahun 2026 di Jakarta, Rabu (12/11).

    Lebih lanjut, Praka menjelaskan bahwa meski porsi pembiayaan perumahan belum menjadi yang dominan dalam portofolio BSI, namun kinerjanya tergolong solid. Per September 2025, outstanding BSI Griya menempati posisi enam besar pertumbuhan tertinggi di antara bank nasional dengan kenaikan 4,68%, sementara rasio Non Performing Financing (NPF) tetap terjaga di level 2,10%.

    “Banyak bank kompetitor yang tumbuh tapi diikuti kenaikan NPF. Di BSI, kami menjaga kualitas pembiayaan sebagai prioritas utama,” imbuhnya.

    Praka menilai sejumlah faktor akan menjadi katalis pertumbuhan sektor properti di tahun depan, mulai dari kebijakan perpanjangan insentif PPN Ditanggung Pemerintah (PPn DTP) hingga tren penurunan suku bunga acuan. Menurutnya, kedua faktor tersebut berpotensi mendorong daya beli masyarakat, khususnya segmen menengah, terhadap pembiayaan rumah syariah.

    “Kami melihat indikasi perekonomian yang mengarah ke sektor perumahan akan terus membaik. Insya Allah, di tahun 2026 BSI tetap berkomitmen menyalurkan pembiayaan untuk sektor ini,” kata Praka.

    Dalam forum yang sama, Kepala Badan Advokasi dan Perlindungan Anggota DPP REI, Adri Istambul Lingga Gayo, mengungkapkan bahwa penjualan rumah tipe kecil masih menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 14,95% pada triwulan III 2025. Sebaliknya, penjualan rumah tipe besar mengalami penurunan hingga 23%.

    Adri menilai bahwa sektor perumahan masih menjadi mesin penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional, namun memerlukan dukungan fiskal dan kebijakan pembiayaan yang lebih inklusif agar dampaknya semakin luas.

    Meski prospeknya menjanjikan, industri properti masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dari sisi pembiayaan konsumen. Berdasarkan data REI, sekitar 70% pengajuan KPR atau pembiayaan rumah tertolak akibat ketentuan pada Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK, terutama karena riwayat pinjaman online (online lending).

    “Banyak masyarakat kita yang gagal KPR karena tercatat di daftar hitam BI Checking akibat pinjaman online. Kami mengimbau agar masyarakat lebih berhati-hati dan selektif dalam mengakses layanan keuangan,” ujar Adri.

    Selain itu, Adri menyoroti daya serap pasar yang fluktuatif, biaya investasi tinggi, serta lamanya proses sertifikasi tanah sebagai hambatan yang masih perlu dibenahi.

    “Sertifikasi lahan yang rumit dan mahal masih menjadi bottleneck yang menghambat investasi sektor perumahan,” pungkasnya.

    Optimisme BSI sejalan dengan semangat kolaboratif antara lembaga keuangan dan pelaku industri properti. Sinergi ini diharapkan mampu memperluas akses pembiayaan, menekan backlog perumahan, sekaligus mendorong pertumbuhan sektor riil yang lebih inklusif.

    Dengan performa pembiayaan yang sehat, rasio risiko yang terjaga, serta dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang kondusif, sektor properti diyakini akan menjadi salah satu sektor unggulan yang menggerakkan roda perekonomian nasional pada tahun 2026.

  • Bank Jakarta Catat Kinerja Positif, Aset Tembus Rp90,72 Triliun hingga Triwulan III-2025

    JAKARTA, KORIDOR.ONLINE — Kinerja PT Bank Pembangunan Daerah Jakarta (Bank Jakarta) menunjukkan hasil gemilang hingga triwulan III-2025. Total aset Bank Jakarta tercatat mencapai Rp90,72 triliun, tumbuh 12,37 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp80,74 triliun.

    Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, menjelaskan bahwa pertumbuhan aset perseroan didorong oleh peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp74,23 triliun, atau naik 16,90 persen (year on year/yoy) dari Rp63,50 triliun pada triwulan III-2024.

    “Kinerja positif ini merupakan hasil kerja keras seluruh insan Bank Jakarta dalam memperkuat peran sebagai Bank Pembangunan Daerah yang tangguh, sehat, dan berkelas nasional,” ujar Agus.

    Fokus pada Dana Murah dan Efisiensi Pendanaan

    Di tengah persaingan ketat industri perbankan, Bank Jakarta terus memperkuat struktur pendanaan melalui optimalisasi dana murah (CASA). Hasilnya, rasio CASA tumbuh signifikan hingga 59,85 persen (yoy). Capaian ini menjadi fondasi kuat bagi efisiensi biaya dana dan stabilitas likuiditas, sekaligus mendukung ekspansi pembiayaan yang berkelanjutan.

    “Kami terus bersinergi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan seluruh ekosistem ekonomi kota dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” tambah Agus.

    Pembiayaan UMKM Tumbuh Solid

    Penyaluran kredit dan pembiayaan Bank Jakarta juga menunjukkan pertumbuhan solid, terutama di segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang meningkat 16,14 persen (yoy) menjadi Rp6,62 triliun, dibandingkan Rp5,70 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

    “Pertumbuhan ini mencerminkan komitmen kami dalam mendukung produktivitas ekonomi daerah melalui pembiayaan yang inklusif dan berdampak luas,” jelas Agus.

    Ke depan, Bank Jakarta akan terus memperluas kolaborasi dengan pelaku UMKM di berbagai sektor produktif melalui pengembangan produk kredit yang lebih fleksibel — baik dari sisi tenor, suku bunga, maupun skema pembayaran.

    Penguatan Fundamental dan Transformasi Digital

    Sementara itu, Direktur Keuangan & Strategi Bank Jakarta, Basaria Martha Juliana, menegaskan bahwa perseroan secara konsisten memperkuat fundamental bisnis melalui pengelolaan risiko yang prudent, transformasi proses bisnis, serta optimalisasi teknologi digital.

    Dari sisi efisiensi, berbagai inisiatif dijalankan untuk menekan beban bunga dan biaya operasional. Upaya ini dilakukan melalui peningkatan porsi CASA dan penyesuaian suku bunga deposito korporasi, yang berhasil menurunkan beban bunga sebesar 7,77 persen hingga September 2025.

    “Pengelolaan operasional expenditure (OPEX) juga terus dioptimalkan melalui efisiensi proses bisnis, peningkatan produktivitas SDM, dan penyesuaian struktur biaya dengan prioritas strategis perusahaan,” ujar Basaria.

    Laba Bersih Naik, Dorong Kinerja Berkelanjutan

    Hingga triwulan III-2025, Bank Jakarta membukukan laba bersih sebesar Rp520,81 miliar, tumbuh 1,46 persen (yoy) dibandingkan Rp513,23 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan laba ini terutama ditopang oleh pendapatan bunga bersih yang meningkat 6,35 persen (yoy) dari Rp2,03 triliun menjadi Rp2,16 triliun.

    “Peningkatan pendapatan bunga bersih menjadi bukti efektivitas strategi efisiensi dan pengelolaan aset produktif yang kami jalankan,” pungkas Basaria.

Back to top button