KPR dalam Satu Sentuhan
Bale by BTN menandai babak baru layanan KPR: lebih cepat, lebih transparan, dan lebih adaptif terhadap pola kerja masyarakat modern.

JAKARTA, KORIDOR.ONLINE – Di layar ponselnya yang retak di sudut kiri, Raka (29) menelusuri pilihan rumah sambil menunggu pesanan ojek daring berikutnya. Ia bukan pegawai kantoran dengan slip gaji rapi, melainkan pekerja lepas dengan penghasilan yang fluktuatif. Namun pagi itu, di sebuah warung kopi kecil di bilangan Jakarta Timur, ia tengah membandingkan simulasi cicilan, mengunggah dokumen, dan menjadwalkan survei—semuanya dari satu aplikasi.
Nama aplikasinya: Bale by BTN.
Bagi Raka, proses membeli rumah yang dulu identik dengan berkas tebal dan antrean panjang, kini terasa lebih ringkas. “Saya pikir KPR itu ribet. Ternyata bisa mulai dari HP,” katanya.
Di balik perubahan pengalaman itu, ada transformasi besar yang sedang dijalankan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Bank yang sejak lama dikenal sebagai spesialis pembiayaan perumahan ini tengah memaknai ulang pelayanannya kepada negeri—bukan hanya lewat penyaluran kredit, tetapi melalui inovasi produk yang menjawab kebutuhan hunian modern, nyaman, dan tetap terjangkau.
Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu, menyebut inovasi bukan sekadar strategi bisnis, melainkan mandat sejarah.
“BTN lahir untuk mendukung pembiayaan perumahan nasional. Tapi masyarakat berubah, gaya hidup berubah, ekspektasi berubah. Kalau kami tidak bertransformasi, kami akan tertinggal dari kebutuhan zaman,” ujarnya, disela-sela penutupan BTN Expo 2026 di Jakarta, akhir Januari 2026.
Modern Mortgage Bank
Di bawah kepemimpinannya, BTN memperkenalkan pendekatan sebagai modern mortgage bank. Artinya, layanan pembiayaan rumah tidak lagi berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dalam satu ekosistem digital dan produk yang menyeluruh: dari pencarian rumah, pengajuan kredit, pencairan, hingga pengelolaan cicilan.
Inovasi itu tampak dalam beragam produk—mulai dari KPR Subsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), KPR Non-Subsidi untuk kelas menengah, KPR Gaess untuk generasi muda, hingga layanan digital Bale by BTN sebagai pintu masuk ekosistem.
“Rumah hari ini bukan hanya tempat berteduh, tapi ruang hidup. Kami ingin memastikan akses terhadap hunian yang nyaman dan modern bisa dijangkau lebih luas,” kata Nixon.

Jika dulu proses KPR identik dengan meja layanan dan map cokelat, kini BTN memindahkannya ke genggaman. Bale by BTN menjadi etalase digital yang mengintegrasikan berbagai kebutuhan perumahan.
Melalui aplikasi ini, calon pembeli bisa mencari properti dari berbagai pengembang, menghitung simulasi kredit, mengajukan KPR, hingga memantau proses persetujuan secara real time. Semuanya terhubung dengan sistem internal bank.
Direktur Consumer BTN, Hirwandi Gafar, menjelaskan bahwa Bale by BTN lahir dari kebutuhan akan transparansi dan efisiensi.
“Kami melihat generasi sekarang ingin proses yang cepat dan jelas. Mereka ingin tahu posisi berkasnya sudah sampai mana. Dengan Bale, proses menjadi lebih terbuka dan terukur,” ujarnya.
Tak hanya itu, Bale juga menjadi jembatan antara pengembang dan konsumen. Informasi proyek, ketersediaan unit, hingga promo dapat diakses dalam satu platform. Bagi BTN, digitalisasi bukan sekadar tren, tetapi instrumen untuk memperluas inklusi.
“Semakin sederhana prosesnya, semakin banyak masyarakat yang berani memulai,” kata Hirwandi.
Sejak diluncurkan pada 9 Februari 2025, Bale by BTN mencatatkan pertumbuhan pengguna yang signifikan dengan total 3,7 juta akun. Perkembangan ini mendorong lonjakan volume transaksi sebesar 79,2 persen secara tahunan menjadi 2,2 miliar transaksi hingga 31 Desember 2025.
Nilai transaksi Bale by BTN juga meningkat pesat dan menembus Rp103,6 triliun sepanjang 2025. Capaian tersebut mencerminkan peningkatan kepercayaan nasabah terhadap layanan digital BTN yang terus diperkuat.
Kontribusi Bale by BTN terhadap dana pihak ketiga juga menunjukkan tren positif. Saldo pengguna mencapai Rp22,8 triliun pada akhir 2025 atau tumbuh 15,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain penguatan layanan digital, BTN juga mempercepat transformasi jaringan fisik melalui pengembangan BTN Digital Store. Konsep ini telah hadir di berbagai kota besar seperti Jabodetabek, Surabaya, Bandung, dan Semarang.
Hingga kini, sebanyak 24 BTN Digital Store telah beroperasi di seluruh Indonesia. Kantor cabang digital ini menggantikan layanan konvensional dengan sistem berbasis teknologi digital dan kecerdasan buatan.
Melalui konsep tersebut, nasabah dapat membuka rekening hanya dalam waktu 3 hingga 5 menit. Proses dilakukan dengan pemindaian KTP yang terintegrasi langsung dengan data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil.
Produk untuk Segala Segmen
Transformasi BTN tak berhenti di aplikasi. Inovasi juga hadir dalam desain produk pembiayaan.
Untuk MBR, KPR Subsidi tetap menjadi tulang punggung—dengan bunga tetap dan cicilan ringan yang terjangkau. Sementara bagi kelas menengah yang menginginkan fleksibilitas, BTN menghadirkan skema bunga berjenjang dan tenor panjang.
Ada pula pembiayaan renovasi rumah, top-up KPR, hingga pembiayaan properti hijau yang mulai diperkenalkan seiring meningkatnya kesadaran lingkungan.
Menurut Nixon, inovasi produk harus berangkat dari realitas sosial.
“Kami sadar tidak semua nasabah punya pola penghasilan yang sama. Ada pekerja formal, ada sektor informal, ada wirausaha. Produk kami harus adaptif terhadap profil mereka,” ujarnya.
Pendekatan berbasis arus kas—bukan semata slip gaji—menjadi salah satu terobosan penting dalam menjangkau sektor informal. Ini membuka pintu bagi kelompok yang sebelumnya sulit mengakses pembiayaan formal.
Perspektif Pengembang
Preadi Ekarto, CEO dan Owner ISPI Group, pengembang perumahan sekaligus nasabah BTN menilai langkah BTN sebagai respons strategis terhadap perubahan lanskap industri.
“Di tengah kompetisi perbankan dan fintech, diferensiasi menjadi penting. BTN punya kekuatan historis di sektor perumahan. Ketika itu dipadukan dengan digitalisasi seperti Bale by BTN, posisi mereka semakin solid,” ujarnya.
Menurutnya, inovasi BTN bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga dampak sosial. Sektor perumahan memiliki multiplier effect besar terhadap ekonomi—menggerakkan ratusan subsektor, dari bahan bangunan hingga UMKM lokal.
“Setiap KPR yang disalurkan bukan sekadar transaksi kredit. Ia menciptakan aktivitas ekonomi baru,” katanya, disela-sela acara pameran perumahan dibilangan Sudirman, Jakarta, 28/1/26.
Dari Aplikasi ke Atap Rumah
Bagi Raka, inovasi itu terasa nyata ketika notifikasi persetujuan KPR muncul di layar ponselnya. Proses yang ia mulai dari Bale by BTN kini berujung pada akad kredit di kantor cabang.
Beberapa bulan kemudian, ia menerima kunci rumah pertamanya—sebuah unit mungil di pinggiran kota yang ia beli dengan skema KPR terjangkau.
“Dulu cuma lihat-lihat. Sekarang sudah punya,” ujarnya sambil tersenyum.
Hunian itu sederhana, tapi cukup nyaman: dua kamar, ruang tamu kecil, dan sisa lahan untuk taman. Bagi Raka, rumah itu adalah simbol stabilitas—ruang untuk tumbuh, bekerja, dan bermimpi.
Bagi BTN, inovasi produk bukan sekadar strategi korporasi. Ia adalah bagian dari mandat pelayanan kepada negeri.
Nixon menegaskan bahwa tantangan backlog perumahan masih besar. Namun dengan inovasi yang tepat, akses dapat diperluas.
“Kami ingin setiap orang punya kesempatan yang sama untuk memiliki rumah. Itulah bentuk pelayanan kami kepada bangsa,” katanya.
Di tengah dinamika ekonomi dan perubahan perilaku masyarakat, BTN memilih beradaptasi. Dari bank konvensional menjadi modern mortgage bank. Dari layanan manual menjadi digital. Dari sekadar kreditur menjadi penghubung ekosistem perumahan.
Dan di setiap rumah yang berdiri, terselip satu benang merah: inovasi yang berangkat dari kebutuhan rakyat. Di situlah pelayanan menemukan maknanya. Bukan dalam slogan, melainkan dalam atap yang menaungi, dinding yang melindungi, dan pintu yang akhirnya bisa disebut milik sendiri.



