Site icon Koridor.Online

Intiland Bidik Marketing Sales Rp1,95 Triliun, Fokus Perumahan dan Kawasan Industri.

JAKARTA, KORIDOR.ONLINE – PT Intiland Development Tbk (Intiland) memperoleh persetujuan pemegang saham atas seluruh agenda yang diajukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan Tahun Buku 2025 yang diselenggarakan di Intiland Tower, Jakarta, Rabu (10/6/2026).

RUPS yang dihadiri pemegang saham, Dewan Komisaris, dan Direksi Perseroan tersebut membahas sejumlah agenda strategis, mulai dari pengesahan laporan tahunan dan laporan keuangan, penetapan penggunaan laba bersih, penunjukan akuntan publik independen, hingga penetapan remunerasi manajemen.

Sekretaris Perusahaan Intiland, Theresia Rustandi, mengatakan persetujuan penuh dari para pemegang saham menjadi bukti kepercayaan terhadap kinerja perusahaan serta komitmen manajemen dalam menerapkan tata kelola perusahaan yang baik dan menjaga keberlanjutan usaha di tengah dinamika industri properti.

Menurutnya, dukungan tersebut sekaligus memperkuat langkah Perseroan dalam menjalankan strategi bisnis yang berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.

“Setiap kebijakan dan langkah strategis yang dijalankan Perseroan selalu mempertimbangkan prinsip kehati-hatian, pengelolaan risiko yang terukur, serta keberlanjutan pertumbuhan usaha,” ujar Theresia.

Dalam rapat tersebut, pemegang saham juga menyetujui penggunaan laba bersih tahun buku 2025. Dari total laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp64,26 miliar, Perseroan menetapkan Rp2 miliar sebagai dana cadangan wajib, sementara sisanya sebesar Rp62,26 miliar dibukukan sebagai saldo laba untuk memperkuat struktur permodalan perusahaan. Dengan keputusan tersebut, Perseroan tidak membagikan dividen untuk tahun buku 2025.

Selain itu, RUPS memberikan kewenangan kepada Dewan Komisaris untuk menunjuk Akuntan Publik Independen yang akan mengaudit laporan keuangan Perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2026.

Direktur Utama Intiland, Archied Noto Pradono, mengungkapkan bahwa fokus utama perusahaan pada tahun ini masih diarahkan pada penguatan fundamental bisnis melalui strategi deleveraging atau penurunan utang.

Sepanjang 2025, Intiland berhasil menurunkan total liabilitas berbunga sebesar 25 persen menjadi Rp3,08 triliun dari posisi Rp4,11 triliun pada tahun sebelumnya. Pencapaian tersebut diperoleh melalui berbagai langkah strategis, termasuk restrukturisasi pinjaman, percepatan pelunasan utang, pelepasan aset non-inti, serta pelunasan sukuk yang jatuh tempo.

“Pengurangan utang menjadi salah satu pencapaian penting yang memberikan ruang lebih besar bagi Perseroan untuk menjaga kesehatan keuangan sekaligus meningkatkan fleksibilitas dalam menangkap peluang bisnis di masa mendatang,” kata Archied.

Menghadapi tantangan pasar properti yang masih bergerak selektif, Perseroan memilih pendekatan konservatif dengan mengoptimalkan proyek-proyek yang telah berjalan. Pengembangan proyek baru tetap dipersiapkan, namun dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan kondisi pasar, daya serap konsumen, dan kesiapan produk.

Pada kuartal I 2026, Intiland membukukan pendapatan usaha sebesar Rp619,8 miliar. Kontributor terbesar berasal dari pendapatan berulang (recurring income) sebesar Rp232,6 miliar atau 37,5 persen dari total pendapatan, disusul segmen kawasan industri sebesar Rp227,4 miliar, perumahan Rp121,9 miliar, dan hunian vertikal Rp37,9 miliar.

Perseroan optimistis peluang pertumbuhan tetap terbuka, terutama pada segmen perumahan dan kawasan industri yang masih menunjukkan permintaan cukup kuat. Untuk itu, Intiland menargetkan marketing sales sebesar Rp1,95 triliun pada 2026, meningkat dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,61 triliun.

Sejumlah agenda pengembangan juga tengah dipersiapkan perusahaan, antara lain pengembangan kawasan industri baru di Jawa Timur serta peluncuran Tower E proyek apartemen SQ Res pada semester kedua tahun ini.

Archied menegaskan bahwa strategi perusahaan ke depan akan difokuskan pada optimalisasi proyek berjalan, percepatan penjualan stok siap huni, penguatan segmen perumahan dan kawasan industri, serta pengembangan program pemasaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.

“Kami melihat peluang pertumbuhan masih tersedia pada segmen yang memiliki kebutuhan riil dan daya serap yang kuat. Karena itu, seluruh strategi bisnis dan pemasaran dijalankan secara terukur agar target kinerja dapat tercapai tanpa mengabaikan kesehatan fundamental perusahaan,” tutup Archied.

Exit mobile version