MAJALENGKA, KORIDOR.ONLINE — Pengembangan kota baru tidak cukup hanya membangun perumahan dan fasilitas komersial. Ketersediaan tenaga kerja terampil, akses pendidikan, dan keterhubungan dengan kegiatan industri juga menjadi faktor penting untuk membentuk kawasan yang produktif dan berkelanjutan.
Prinsip tersebut menjadi salah satu arah pengembangan Metland Kertajati yang dikembangkan PT Metropolitan Land Tbk (Metland) di Majalengka, Jawa Barat. Seiring dengan potensi pertumbuhan kawasan industri, Metland melihat pendidikan vokasi sebagai peluang untuk memperkuat hubungan antara kebutuhan dunia usaha dan peningkatan keterampilan masyarakat.
Direktur PT Metropolitan Land Tbk, Wahyu Sulistio, mengatakan pengembangan Metland Kertajati perlu disesuaikan dengan kebutuhan riil kawasan. Kehadiran industri tidak hanya menciptakan kebutuhan terhadap lahan dan hunian, tetapi juga membuka peluang bagi penyediaan pendidikan, pelatihan, akomodasi, serta berbagai layanan pendukung.
Menurut Wahyu, konsep kota baru atau new city harus ditopang oleh fasilitas dan layanan yang dibutuhkan masyarakat agar aktivitas ekonomi dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Karena itu, Metland tidak hanya melihat Kertajati sebagai kawasan untuk membangun rumah, tetapi juga sebagai kawasan yang berpotensi menghubungkan tempat tinggal, pendidikan, pekerjaan, dan kegiatan ekonomi.
Mulai dari Pelatihan Kerja
Sebagai langkah awal, Metland telah menjalankan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) yang menyediakan program pelatihan keterampilan dan sertifikasi dalam waktu relatif singkat.
Program tersebut menjadi tahap awal untuk mengidentifikasi kebutuhan pasar sekaligus menguji potensi pengembangan pendidikan berbasis keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Wahyu menjelaskan, apabila permintaan terhadap program pelatihan menunjukkan potensi yang memadai, perusahaan dapat mempertimbangkan pengembangan fasilitas pendidikan vokasi yang lebih luas, termasuk sekolah vokasi.
Pendekatan bertahap ini memungkinkan pengembangan program pendidikan mempertimbangkan kebutuhan industri dan peluang kerja yang tersedia, sehingga pelatihan tidak hanya berorientasi pada penyelenggaraan pendidikan, tetapi juga relevansi keterampilan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja.
Menurutnya, industri membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi yang sesuai dengan karakteristik kegiatan produksinya. Karena itu, keberadaan lembaga pelatihan yang mampu meningkatkan keterampilan dan menyediakan sertifikasi dapat menjadi salah satu elemen pendukung pertumbuhan kawasan industri.
Membuka Peluang Kerja bagi Masyarakat
Pendidikan vokasi juga dinilai memiliki potensi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat sekitar. Dengan keterampilan dan sertifikasi yang sesuai, tenaga kerja lokal berpeluang memperluas akses terhadap kesempatan kerja, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Wahyu menilai kompetensi yang terukur dapat meningkatkan daya saing tenaga kerja sekaligus memperkuat posisi tawar mereka di pasar kerja.
Bagi kawasan Kertajati, pengembangan pendidikan berbasis keterampilan berpotensi mempertemukan kebutuhan industri terhadap tenaga kerja dengan upaya masyarakat meningkatkan kompetensi.
Jika berjalan seiring dengan pertumbuhan aktivitas industri, pendekatan tersebut dapat menciptakan hubungan yang saling mendukung antara investasi, penciptaan lapangan kerja, dan kebutuhan hunian.
Bagi Metland, keberadaan pendidikan vokasi juga dapat memperluas fungsi kawasan dari sekadar tempat tinggal menjadi lingkungan yang mendukung aktivitas ekonomi dan pengembangan sumber daya manusia.
Fasilitas Kota Tumbuh Mengikuti Kebutuhan
Selain pendidikan vokasi, Metland melihat peluang pengembangan fasilitas komersial dan kesehatan untuk melengkapi kebutuhan masyarakat di kawasan Kertajati.
Perusahaan telah menyiapkan lokasi untuk pengembangan pusat perbelanjaan. Namun, realisasinya akan mempertimbangkan pertumbuhan populasi dan aktivitas masyarakat agar fasilitas tersebut memiliki basis pengunjung yang memadai.
Metland juga membuka peluang kerja sama dengan mitra untuk pengembangan fasilitas kesehatan.
Sementara itu, keberadaan kawasan industri dan potensi pengembangan fungsi logistik Bandara Internasional Kertajati menjadi faktor lain yang dapat memengaruhi kebutuhan terhadap hunian, akomodasi, pergudangan, dan layanan pendukung usaha.
Wahyu menilai, pengembangan berbagai fungsi tersebut akan lebih optimal jika menjadi bagian dari perencanaan ekonomi regional Jawa Barat yang terintegrasi.
Pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, dan pelaku usaha perlu berkolaborasi dalam memetakan potensi wilayah serta menentukan prioritas pengembangan berdasarkan keunggulan masing-masing daerah.
Dalam konteks Kertajati, keterpaduan kawasan industri, pendidikan, permukiman, dan logistik berpotensi membentuk sumber pertumbuhan ekonomi baru sekaligus meningkatkan daya saing wilayah.
Meski demikian, realisasi berbagai peluang tersebut membutuhkan proses bertahap, dukungan infrastruktur, kepastian kebijakan, serta pertumbuhan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.
Melalui pengembangan yang mengikuti kebutuhan pasar, Metland Kertajati diarahkan untuk tumbuh sebagai kota baru yang tidak hanya menyediakan hunian, tetapi juga mendukung pendidikan, pengembangan keterampilan, dan aktivitas ekonomi produktif.
