Site icon Koridor.Online

Gejolak Timur Tengah Bayangi Prospek Properti 2026, SMF: Antisipasi Tekanan Likuiditas

JAKARTA, KORIDOR.ONLINE  – Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat-Israel dan Iran mulai memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas sektor riil Indonesia, termasuk industri properti.  Lonjakan risiko geopolitik berpotensi memicu kenaikan harga energi global, memperlemah nilai tukar rupiah, serta menekan ruang fiskal pemerintah.

Chief Economist PT Sarana Multigriya Finansial (SMF), Martin Daniel Siyaranamual, menilai prospek sektor properti pada 2026 tidak secerah proyeksi awal.

“Tahun 2026 itu bukan tahun yang penuh bunga dan pelangi bagi sektor perumahan. Implikasinya, SMF harus bekerja lebih keras untuk menjalankan mandat yang diberikan,” ujarnya dalam konferensi pers kinerja full year 2025 perseroan di Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Chief Economist PT Sarana Multigriya Finansial (SMF), Martin Daniel Siyaranamual. Fptp: Istimewa

Martin menjelaskan, Sebagai negara net importir energi, Indonesia akan menghadapi tekanan pada neraca perdagangan dan anggaran negara. Jika subsidi energi meningkat atau harga domestik disesuaikan, risiko inflasi ikut membesar.

Dalam situasi tersebut, ruang fiskal pemerintah untuk mendukung program prioritas—termasuk rumah subsidi—dapat menyempit. Tekanan ini menjadi krusial mengingat pembiayaan perumahan bersubsidi sangat bergantung pada dukungan anggaran negara dan stabilitas makroekonomi.

“Kalau sampai sektor riil terpukul dan pengangguran meningkat, masyarakat akan lebih fokus pada kebutuhan dasar. Dalam kondisi seperti itu, keputusan membeli rumah tentu bukan prioritas utama,” kata Martin.

Dampak Tidak Langsung, Namun Signifikan

Meski ketegangan geopolitik tidak serta-merta berdampak langsung terhadap kinerja SMF sebagai lembaga pembiayaan sekunder, efek rambatannya dinilai tidak bisa diabaikan. Depresiasi rupiah akibat ketidakpastian global dapat meningkatkan biaya impor bahan baku, menekan sektor manufaktur, dan pada akhirnya melemahkan konsumsi rumah tangga.

Ketika daya beli menurun, permintaan terhadap hunian—baik komersial maupun subsidi—berpotensi tertahan. Di titik inilah tekanan terhadap sektor properti mulai terasa secara nyata.

“Nah, berangkat dari sinilah SMF baru akan terkena dampaknya. Jadi tensi geopolitik memang tidak langsung mengenai kami, tetapi efek jangka panjangnya bisa terasa ketika daya beli turun dan ruang fiskal pemerintah terbatas,” jelasnya.

Situasi global ini menjadi ujian bagi ketahanan ekosistem pembiayaan perumahan nasional. Program perumahan yang sebelumnya dirancang ekspansif harus berhadapan dengan realitas volatilitas global, risiko inflasi, serta kemungkinan pengetatan likuiditas.

Di tengah tantangan tersebut, peran lembaga seperti SMF menjadi semakin strategis, terutama dalam menjaga kesinambungan likuiditas pembiayaan perumahan dan meminimalkan risiko mismatch pendanaan jangka panjang.

Martin menegaskan bahwa dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian, stabilitas makroekonomi dan keberlanjutan fiskal akan menjadi faktor penentu keberhasilan program perumahan nasional pada 2026.

“Geopolitik mungkin jauh secara geografis, tetapi dampaknya terhadap ekonomi domestik bisa sangat nyata. Karena itu, kewaspadaan dan mitigasi risiko menjadi kunci,” pungkasnya.

Exit mobile version