BEKASI, KORIDOR.ONLINE – Di suatu sore di Summarecon Bekasi, keramaian tidak hanya datang dari kendaraan yang melintas di boulevard utama. Ia hidup dari langkah kaki yang berjalan menuju kafe, dari keluarga yang menghabiskan waktu di ruang publik, hingga dari para pekerja yang menutup hari di pusat komersial.
Kota ini—yang dahulu hanyalah hamparan lahan kosong di utara Bekasi—kini berdenyut seperti sebuah metropolis kecil. Perjalanan itu tidak terjadi dalam semalam. Ia dibangun perlahan, selama 16 tahun.
Dari “Tanah Tidur” ke Episentrum Baru
Dulu, Bekasi sering dijadikan bahan candaan sebagai “Planet Lain” karena macet dan panasnya. Namun, stigma itu perlahan runtuh sejak hadirnya Summarecon Bekasi. Ketika proyek ini dimulai pada 2010, kawasan tersebut belum memiliki daya tarik signifikan. Namun di tangan PT Summarecon Agung Tbk, visi jangka panjang mulai dirancang, membangun kota, bukan sekadar perumahan.
Apalagi, sejak dibangunnya akses Flyover KH Noer Ali yang ikonik itu, kawasan ini menjelma menjadi simbol status sosial baru di Timur Jakarta.. Hal ini menjadi nilai tambah untuk kota Bekasi baik dari segi ekonomi maupun segi infrastruktur kota. Summarecon Bekasi bukan lagi sekadar Kawasan perumahan, tapi sudah menjadi New City.
Kini, kawasan Summarecon Bekasi menjelma menjadi township terpadu yang menggabungkan hunian, pusat bisnis, hingga fasilitas gaya hidup dalam satu ekosistem. Memasuki usia ke-16, transformasi itu semakin terasa. Summarecon Bekasi tidak lagi sekadar proyek properti, tetapi telah menjadi destinasi hunian dan lifestyle utama di timur Jakarta.
“Live, Work, Play”, Kota yang Dirancang untuk Hidup
Konsep “Live, Work, Play” bukan sekadar jargon. Ia menjadi fondasi bagaimana kota ini tumbuh. Di satu kawasan, orang bisa tinggal, bekerja, berbisnis, sekaligus menikmati hiburan.
Mulai dari Summarecon Mall Bekasi yang menjadi pusat gaya hidup, hingga area komersial seperti La Spezia di kawasan CBD, semuanya dirancang untuk menciptakan perputaran ekonomi yang berkelanjutan.
Ekspansi terbaru melalui pembukaan tahap kedua Summarecon Mall Bekasi (SMB tahap 2) pada 2026 semakin mempertegas peran kawasan ini sebagai episentrum lifestyle metropolitan.
“Pengembangan seperti ini adalah tentang membangun ekosistem yang hidup. Kota masa depan bukan hanya tempat tinggal, tetapi ruang yang memberi nilai tambah bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat,” ungkap Adrianto P. Adhi, Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk, kepada media, disela-sela pembukaan SMB tahap 2, di Bekasi, Rabu, 4/2/2026.
Infrastruktur Fondasi, Bukan Pelengkap
Di balik wajah modernnya, ada kerja panjang yang jarang terlihat, yaitu pembangunan infrastruktur. Pada kesempatan yang sama, Herman Nagaria, Direktur PT Summarecon Agung Tbk, menjelaskan bahwa pengembang pada dasarnya menjalankan peran sebagai “agen perubahan”—membangun jalan, sistem drainase, hingga ruang terbuka yang menjadi tulang punggung kota. Tanpa itu, kawasan tidak akan pernah tumbuh.
Konsep “compact city” yang diusung Summarecon Bekasi juga memperkuat efisiensi ruang dan mobilitas. Akses ke tol, kedekatan dengan transportasi publik, serta integrasi fasilitas menjadi faktor penting dalam membentuk kota yang fungsional dan berkelanjutan.
“Kita bisa lihat, Kawasan Summarecon Bekasi sudah memiliki akses transportasi strategis, termasuk kedekatan dengan jalan tol Jakarta-Cikampek dan Becakayu, Stasiun LRT Bekasi Barat, serta Stasiun KRL Bekasi. Integrasi infrastruktur tersebut menjadikan kawasan ini terhubung dengan pusat kegiatan ekonomi di Jakarta dan wilayah sekitar,” ujarnya.
Menghidupkan Ekonomi, Menggerakkan Komunitas
Lebih dari sekadar fisik, kota ini tumbuh melalui aktivitas manusia di dalamnya. Executive Director Summarecon Bekasi Magdalena Juliati mengatakan pengembangan kawasan sejak awal diarahkan untuk membangun ekosistem kota terpadu yang tidak hanya berfokus pada hunian, tetapi juga aktivitas ekonomi dan gaya hidup masyarakat.
“Kami tidak hanya membangun hunian, tetapi membentuk ekosistem. Fasilitas komersial yang dihadirkan kini semakin berorientasi pada pengembangan experience dan lifestyle seperti pembukaan SMB Tahap 2 yang menjadi wujud komitmen kami dalam menciptakan Summarecon Bekasi yang semakin metropolis,” ujarnya.
Menurut Magdalena, kawasan Summarecon Bekasi kini dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, mulai dari pusat kuliner di ruko hingga La Spezia di kawasan Bekasi Central Business District (BCBD), institusi pendidikan dari tingkat dasar hingga universitas, rumah sakit, perkantoran, serta fasilitas komersial lain seperti dealer mobil dan klinik kecantikan.
Pengembangan kawasan Summarecon Bekasi selama 16 tahun juga tercermin dari pertumbuhan hunian yang telah dibangun. Hingga saat ini, kawasan tersebut telah menghadirkan ribuan rumah tapak di sejumlah klaster serta lebih dari 4.800 unit apartemen di empat tower.
Selain fasilitas komersial dan hunian, pengembang juga meluncurkan klaster premium Soultan Island yang mengusung konsep Ultra-Luxury Living in Nature’s Embrace. Klaster tersebut dirancang untuk menghadirkan hunian berukuran besar dengan standar premium yang mengedepankan privasi dan lingkungan alami.
Hunian di Soultan Island dirancang oleh arsitek internasional Thomas B. Elliot dengan filosofi “architecture as a legacy” yang memadukan estetika desain, fungsi ruang, dan nilai keberlanjutan jangka panjang.
Dalam banyak hal, Summarecon Bekasi mencerminkan bagaimana kota satelit berevolusi—dari sekadar penyangga Jakarta menjadi pusat pertumbuhan baru.
Visi Keberlanjutan, Kota untuk Generasi Mendatang
Di usia ke-16, narasi yang dibangun tidak lagi soal ekspansi semata, tetapi keberlanjutan. Ruang terbuka hijau, pengelolaan air, serta integrasi fungsi kawasan menjadi bagian dari upaya menghadirkan lingkungan yang lebih seimbang. Konsep kota mandiri yang terus dikembangkan diarahkan untuk menciptakan kualitas hidup jangka panjang.
Bagi Adrianto, masa depan kota adalah tentang keseimbangan antara pertumbuhan dan keberlanjutan.
Sementara Herman melihatnya dari perspektif yang lebih mendasar: kota harus dibangun dengan visi besar, bukan sekadar proyek jangka pendek.
Metropolis yang Terus Bertumbuh
Enam belas tahun mungkin terasa singkat dalam skala sejarah kota. Namun bagi Summarecon Bekasi, waktu itu cukup untuk membuktikan satu hal: bahwa kota bisa diciptakan—dirancang, dibangun, dan dihidupkan.
Dari lahan yang nyaris tak dilirik, kini berdiri sebuah kawasan yang tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga simbol transformasi urban.
Dan perjalanan itu belum selesai. Karena seperti kota pada umumnya, Summarecon Bekasi bukanlah hasil akhir—melainkan proses yang terus bergerak, membentuk wajah metropolis baru bagi generasi berikutnya.
