Site icon Koridor.Online

Ketika Kerinduan Menari Melahirkan Duren Tiga Academy & Studio

JAKARTA, KORIDOR.ONLINE — Di sebuah ruang sederhana di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, tiga perempuan duduk berdampingan. Mereka tertawa, mengenang masa muda, guru-guru yang membentuk mereka, dan panggung-panggung yang pernah mereka taklukkan puluhan tahun lalu.

Namun pertemuan itu bukan sekadar nostalgia.

Dari obrolan ringan saat halal bihalal komunitas tari, lahirlah sebuah gagasan besar: membangun rumah baru bagi generasi penari masa depan.

Namanya Duren Tiga Academy & Studio (D3 Academy & Studio).

Bagi pendirinya, akademi ini bukan sekadar tempat belajar menari. Ia adalah ikhtiar untuk memastikan warisan para maestro tari Indonesia tidak berhenti pada satu generasi.

Duren Tiga Academy Siap Cetak Bintang Dunia. Foto: Ilustrasi AI

“Kami punya kerinduan yang sangat mendalam untuk kembali menari dan melanjutkan pesan-pesan guru kami,” ujar Lusy, Executive Director D3 Academy & Studio.

Di antara guru yang paling membekas dalam perjalanan mereka adalah maestro tari legendaris Indonesia, almarhum Bagong Kussudiardja, serta tokoh tari Bali I Gusti Kompyang Raka.

Bagi Lusy, apa yang diwariskan para guru bukan hanya teknik gerak tubuh.

Lebih dari itu, mereka mewariskan filosofi hidup.

“Kami tidak ingin warisan itu berhenti di kami. Kami ingin meneruskannya kepada generasi masa depan dengan ekosistem, teknologi, dan selera zaman sekarang,” katanya.

Karena itulah D3 Academy hadir dengan mimpi yang terdengar ambisius: mencetak bintang-bintang tari kelas dunia dari Indonesia.

Bukan Sanggar Tari Biasa

Memasuki D3 Academy, pengunjung tidak akan menemukan konsep sanggar tari tradisional seperti yang lazim dikenal masyarakat.

Menurut Wiwiek, Direktur dan Koreografer Tari Tradisional D3 Academy, pendekatan yang digunakan jauh lebih modern dan profesional.

Duren Tiga Academy Siap Cetak Bintang Dunia. Foto: Ilustrasi AI

Dengan pengalaman lebih dari tiga dekade sebagai penari, pengajar, sekaligus koreografer, ia melihat perlunya pembaruan dalam dunia pendidikan tari.

“Kami ingin tari diajarkan secara sistematis, profesional, dan bersertifikat,” ujarnya.

Namun yang paling membedakan adalah filosofi pembelajarannya.

Jika banyak tempat fokus pada latihan dan teori, D3 justru menempatkan panggung sebagai ruang belajar utama.

Karena menurut Wiwiek, penari tidak lahir dari ruang kelas.

Penari lahir dari pengalaman tampil.

“Kami lebih menekankan praktik dan pentas daripada sekadar tutorial. Setiap orang bisa menjadi bintang. Tugas kami adalah melatih, membimbing, dan menghantarkan mereka sampai ke sana,” katanya.

Di D3 Academy, proses belajar tidak berhenti ketika musik selesai dimainkan.

Murid akan dipersiapkan untuk tampil di berbagai panggung, festival, pertunjukan, hingga produksi digital yang menjangkau audiens global.

Dari Jakarta ke Dunia Digital

Jika Wiwiek menjaga akar tradisi, maka Rinda bertugas menghubungkannya dengan dunia modern.

Direktur Koreografer Tari Modern D3 Academy itu memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun sebagai penari dan pengajar. Sepuluh tahun di antaranya ia habiskan di Amerika Serikat saat menjalankan tugas diplomatik di Washington DC.

Pengalaman internasional tersebut membuatnya memahami satu hal penting:

Generasi muda saat ini hidup di era digital.

Mereka tidak hanya ingin tampil di atas panggung.

Mereka ingin tampil di layar dunia.

Duren Tiga Academy Siap Cetak Bintang Dunia. Foto: Ilustrasi AI

“Tari modern sangat digemari anak-anak muda karena memberi ruang untuk berekspresi. Mereka bisa tampil di mall, di festival, bahkan viral ke seluruh dunia melalui media sosial,” ujarnya.

Karena itu, D3 Academy tidak hanya membangun akademi tari.

Mereka juga membangun apa yang mereka sebut sebagai Pabrik Konten Tari.”

Sebuah studio kreatif yang akan memproduksi video, pertunjukan digital, konten edukasi, hingga kolaborasi lintas budaya untuk platform global.

“Kami ingin menjadi pabrik konten kreatif yang produktif sekaligus edukatif,” kata Rinda.

Ketika Turis Menjadi Penari Bali

Salah satu program yang paling menarik perhatian adalah Foreigners Class for Mastering Traditional Dances.

Program ini dirancang khusus bagi wisatawan asing, diplomat, ekspatriat, maupun mahasiswa internasional yang tinggal di Indonesia.

Konsepnya sederhana namun unik.

Peserta diajarkan tari tradisional Indonesia dari nol hingga mampu tampil di atas panggung hanya dalam waktu satu bulan.

“Kami melatih mereka dari dasar sampai bisa tampil percaya diri. Bahkan bukan tidak mungkin videonya menjadi viral di YouTube,” ujar Rinda sambil tersenyum.

Untuk mendukung program tersebut, seluruh pengajar telah dipersiapkan dengan kemampuan mengajar dalam bahasa Inggris.

Mereka berharap kelas ini menjadi jembatan diplomasi budaya yang memperkenalkan Indonesia kepada dunia melalui gerak tari.

Bayangkan seorang wisatawan asal Australia, diplomat dari Jepang, atau mahasiswa dari Amerika Serikat menarikan Tari Pendet atau Tari Legong dengan penuh penghayatan.

Bagi D3 Academy, itulah bentuk diplomasi budaya yang sesungguhnya.

Menyalakan Obor Warisan

Di tengah derasnya arus budaya populer global, para pendiri D3 Academy percaya bahwa tradisi tidak boleh hanya menjadi artefak masa lalu.

Tradisi harus hidup.

Harus bergerak.

Harus terus ditarikan.

Karena itu mereka memandang D3 Academy bukan sebagai bisnis semata, melainkan gerakan kebudayaan.

Gerakan untuk menjaga agar api yang pernah dinyalakan para guru besar tari Indonesia tetap menyala.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh komunitas tari Indonesia yang telah mendukung lahirnya D3 Academy & Studio,” ujar Lusy, Wiwiek, dan Rinda secara bersamaan.

Ucapan terima kasih paling khusus mereka tujukan kepada para guru yang selama puluhan tahun membentuk perjalanan hidup mereka.

Guru-guru yang mengajarkan bahwa tari bukan hanya soal gerakan.

Tetapi tentang makna kehidupan.

Mereka masih mengingat satu kalimat yang selalu diucapkan para guru mereka.

“Tari adalah gelora hari.”

Dan satu kalimat lain yang menjadi fondasi perjalanan baru mereka.

“Tari adalah doa yang digerakkan.”

Kini, melalui Duren Tiga Academy & Studio, obor warisan itu kembali dinyalakan.

Bukan hanya untuk Jakarta.

Bukan hanya untuk Indonesia.

Tetapi untuk panggung dunia.

Exit mobile version